'
20 Sya'ban 1447 H | Minggu, 8 Februari 2026
×
/ kuansing
UPTD Puskesmas Gunung Toar Lakukan Program Skrining TBC Kepada Warga Desa
| Senin, 20 Juni 2022
Editor : | Penulis : admin

 Teluk Kuantan- Penyakit Tuberkulosis (TBC) Mudah menular dan menghawatirkan.Agar penyakit ini bisa teratasi, Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas Kecamatan Gunung Toar kabupaten, Kuantan Singingi  melakukan skrining penyakit TBC. Pemeriksaan dilakukan melalui Desa desa di Wilayah Kecamatan Gunung Toar.

Dalam kegiatan tersebut, Pihak UPTD Puskesmas kecamatan gunung Toar sudah membentuk tim 14 orang  khusus di setiap Desa yang ada di Kecamatan Gunung Toar ini, dan di setiap Desa di tunjuk satu kader untuk melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga, supaya pihak Puskesmas bisa cepat mengetahui informasi tentunya.

Hal ini di ungkapkan Hj Wenni  SyfitraS Kep, kepala UPTD  Puskesmas, Jum'at (27/6/22).

Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan yang memiliki wilayah kerja dan berhubungan langsung dengan masyarakat. Hal ini menjadikan Puskesmas memiliki tanggung jawab yang besar terhadap masalah kesehatan di masyarakat. Namun pada kenyataannya banyak masalah yang terjadi di lapangan termasuk dalam pelaksanaan program TBC di Puskesmas. 

Lebih jelas lagi Wenni menjabarkan,Lalu, bagaimanakah program TBC ini sebenarnya dijalankan?

Langkah pertama lanjut Wenni, penanganan TBC adalah dengan penemuan kasus. Penemuan kasus TBC di Puskesmas dapat dilakukan secara pasif dan aktif. Penemuan kasus secara pasif dilakukan ketika pasien yang mengalami gejala-gejala TBC datang ke Puskesmas untuk memeriksakan diri. Penemuan kasus secara aktif dilakukan dengan skrining oleh petugas kesehatan dan kader. Kader kesehatan akan melakukan pelacakan kasus (contact tracing) pada keluarga, tetangga, dan orang yang sering kontak dengan pasien TBC.

Kemudian setelah penemuan kasus kata Wenni,maka diagnosis berperan penting agar pasien yang positif TBC dapat segera diatasi. Diagnosis TBC dilakukan dengan pemeriksaan dahak sebanyak dua kali yaitu saat pertama datang ke Puskesmas dan keesokan paginya. Saat ini diagnosis TBC dapat dilakukan dengan cepat menggunakan tes cepat molekuler. Cepatnya dignosis ini bertujuan agar pasien dapat segera diobati jika ternyata positif menderita TBC.

Pasien yang telah terdiagnosis TBC diberikan konseling tentang pengobatan yang harus dijalaninya karena pengobatan TBC ini berlangsung lama yaitu selama 6 bulan. Pasien harus melakukan pengobatan sesuai peraturan dan jenis TBC yang dideritanya. Pengambilan obat tergantung pada perjanjian antara pasien dan petugas TBC. Pada beberapa Puskesmas, pasien harus mengambil obat seminggu sekali pada hari yang telah ditentukan. Pada hari tersebut pasien akan diberi persediaan obat selama seminggu kedepan. Namun ada juga Puskesmas yang membebaskan waktu kedatangan pasien sehingga pasien bisa datang setiap 2 minggu atau lebih selama ada pemberitahuan pada petugas TBC di Puskesmas. Tutur Wenni.

Oleh karena lamanya pengobatan dan banyaknya pasien TBC lanjut Wenni, maka ketersediaan obat menjadi hal yang sangat penting dalam menangani TBC. Umumnya Unit Farmasi Puskesmas akan segera membuat laporan permintaan obat sebelum kehabisan. Namun ada juga Puskesmas yang meminjam stok obat dari Puskesmas lain saat mengalami kehabisan obat. Oleh karena itu, sistem pencatatan dan pelaporan terkait TBC akan dilakukan secara internal setiap bulan serta dilaporkan ke Dinas Kesehatan setiap tiga bulan.

Hal ini bertujuan untuk memonitor bagaimana pelaksanaan program TBC di lapangan.

“Kami lakukan skrining kepada masyarakat untuk memutus penularan TBC,Wenni juga menuturkan, skrining dilakukan dengan memberikan pertanyaan kepada masyarakat terkait gejala TB. Yaitu, gejala batuk, sudah berapa lama batuk yang dialami, berat badan turun drastis, serta keadaan tubuh pada malam hari.

Dikatakan Wenni Syafitra, berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, jika ditemukan suspek baru akan dirujuk ke Puskesmas. Untuk selanjutnya, dilakukan pemeriksaan oleh dokter dan laboratorium.

“Akan kami berikan rujukan dan pemeriksaan selanjutnya untuk mengetahui status kesehatan,” tambahnya.

Wenni berpesan kepada masyarakat untuk mengetahui gejala TB. Kemudian, segera berobat agar mendapatkan penanganan yang tepat.

“Segera berobat jika ada anggota keluarga yang mengalami gejala TB,” tandasnya.

 

Index
Potensi Pendapatan Aryaduta Besar, Kontribusi ke Pemprov Riau Dinilai Terlalu Kecil
Ketua DPRD Riau Pastikan Evaluasi APBD 2026 Rampung, Penggunaan Anggaran Segera Dimulai
Pimpin Rapat OPD, Wako Minta Tingkatkan Kinerja di 2026
Bupati Bengkalis Serahkan SK PPPK Paruh Waktu, Tegaskan Disiplin, Integritas, dan Evaluasi Kinerja T
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
PGRI Kabupaten Bengkalis Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Sumatera Utara
Hadiri RAKERCAB Pemuda Pancasila, Bupati Bengkalis Tekankan Peran Strategis Ormas dalam Pembangunan
Bupati Bengkalis Raih Anugerah Baiduri ke-14, Wujud Apresiasi Perempuan untuk Perempuan
Index
Diikuti 71 Pasangan, Nikah Massal Pekanbaru Meriah Dipadati 10 Ribu Warga
 Anggota DPRD Kota Pekanbaru Nurul Ikhsan Jemput Aspirasi Warga di RT 05 RW 01 Sidomulyo Timur
Ketua DPRD Sambut Baik Larangan Plastik Pemko Pekanbaru, Dinilai Positif Atasi Sampah
Septian Nugraha Nahkodai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bengkalis
Buaya Raksasa Inhil Belum Mau Makan, Petugas Berikan Infus dan Antibiotik Khusus
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital BEJO’S di Pekanbaru
Pelalawan Sabet Dua Penghargaan Bergengsi di API Award 2025 Kalimantan Barat
 Sebanyak 769 ASN Pemko Pekanbaru Jalani Asesmen
Hari Pahlawan, Puluhan Veteran Dapat Sagu Hati dari Pemko Pekanbaru
Peringati Hari Pahlawan, Plt Gubri SF Hariyanto Ajak Bekerja Lebih Giat
pemerintahan
Potensi Pendapatan Aryaduta Besar, Kontribusi ke Pemprov Riau Dinilai Terlalu Kecil
Ketua DPRD Riau Pastikan Evaluasi APBD 2026 Rampung, Penggunaan Anggaran Segera Dimulai
Diikuti 71 Pasangan, Nikah Massal Pekanbaru Meriah Dipadati 10 Ribu Warga
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital BEJO’S di Pekanbaru
daerah
Pimpin Rapat OPD, Wako Minta Tingkatkan Kinerja di 2026
Bupati Bengkalis Serahkan SK PPPK Paruh Waktu, Tegaskan Disiplin, Integritas, dan Evaluasi Kinerja T
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
Politik
 Pasangan Cawako Aman Menang Hasil Hitungan Cepat Raih 47 Persen Suara
Hasil Quick Count LSI Abdul Wahid-SF Hariyanto Unggul 42,39 Persen di Pilgub Riau
KPU Himbau Agar Masyarakat Datang ke TPS Gunakan Hak Suara
Berikut Nama Lembaga Survei yang resmi Daftar ke KPU

ekonomi
Bapenda Beri Penghargaan Taat Pajak kepada Perusahaan dan Warga
Hasil Uji Labor, Pemko Pekanbaru Pastikan Anggur Muscat Aman Dikonsumsi
UMKM EXPO Inhil Resmi di Tutup,Bupati Inhil,Semoga UMKM Makin Berkembang
Nasional
Dipukul Rata 26 Tahun, Tak Ada Lagi Masa Tunggu Haji 15 Tahun
Farhan Harumkan Riau Lewat Hafalan 10 Juz di STQH Nasional 2025
Rektor UII Kawatir Ada Cukong Dibalik Perguruan Tinggi Kelola Tambang
SKK Migas dan Polda Riau Tandatangani Perpanjangan Perjanjian Perjanjian Kerja Sama (PKS) SKK Migas

internasional
Parlemen Iran Dikabarkan Setujui Penutupan Selat Hormuz
Menteri Keamanan Israel Ancam Bubarkan Pemerintah Benjamin Netanyahu
Gelar Konpers Pertama, Taliban Janji Hormati Hak Perempuan Menurut Syariah
olahraga
Polda Riau Siap Gelar Event Lari RBR 2025, Terbesar di Sumatra dan Akan di Buka Kapolri
Asyrof Al Ghifari Mahasiswa FH UGM asal Bengkalis Wakili Indonesia pada Paris International Model Un
Pengurus Pengprov Muaythai Riau dan Pengurus kab/kota Jumpai Kabid Organisasi dan Bidang Hukum KONI
Muaythai Tampil di Perpisahan Sekolah, Ketua KONI: Muaythai akan Kita Jadikan Ekstrakurikuler Binaan

News Popular
Pilihan Redaksi
Daerah
Politik
Nasional
Serba Serbi
kuansing

UPTD Puskesmas Gunung Toar Lakukan Program Skrining TBC Kepada Warga Desa
Senin, 20 Juni 2022
Editor : | Penulis : admin
Pemerintahan

OLAHRAGA

Pendidikan
lingkungan

 Teluk Kuantan- Penyakit Tuberkulosis (TBC) Mudah menular dan menghawatirkan.Agar penyakit ini bisa teratasi, Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas Kecamatan Gunung Toar kabupaten, Kuantan Singingi  melakukan skrining penyakit TBC. Pemeriksaan dilakukan melalui Desa desa di Wilayah Kecamatan Gunung Toar.

Dalam kegiatan tersebut, Pihak UPTD Puskesmas kecamatan gunung Toar sudah membentuk tim 14 orang  khusus di setiap Desa yang ada di Kecamatan Gunung Toar ini, dan di setiap Desa di tunjuk satu kader untuk melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga, supaya pihak Puskesmas bisa cepat mengetahui informasi tentunya.

Hal ini di ungkapkan Hj Wenni  SyfitraS Kep, kepala UPTD  Puskesmas, Jum'at (27/6/22).

Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan yang memiliki wilayah kerja dan berhubungan langsung dengan masyarakat. Hal ini menjadikan Puskesmas memiliki tanggung jawab yang besar terhadap masalah kesehatan di masyarakat. Namun pada kenyataannya banyak masalah yang terjadi di lapangan termasuk dalam pelaksanaan program TBC di Puskesmas. 

Lebih jelas lagi Wenni menjabarkan,Lalu, bagaimanakah program TBC ini sebenarnya dijalankan?

Langkah pertama lanjut Wenni, penanganan TBC adalah dengan penemuan kasus. Penemuan kasus TBC di Puskesmas dapat dilakukan secara pasif dan aktif. Penemuan kasus secara pasif dilakukan ketika pasien yang mengalami gejala-gejala TBC datang ke Puskesmas untuk memeriksakan diri. Penemuan kasus secara aktif dilakukan dengan skrining oleh petugas kesehatan dan kader. Kader kesehatan akan melakukan pelacakan kasus (contact tracing) pada keluarga, tetangga, dan orang yang sering kontak dengan pasien TBC.

Kemudian setelah penemuan kasus kata Wenni,maka diagnosis berperan penting agar pasien yang positif TBC dapat segera diatasi. Diagnosis TBC dilakukan dengan pemeriksaan dahak sebanyak dua kali yaitu saat pertama datang ke Puskesmas dan keesokan paginya. Saat ini diagnosis TBC dapat dilakukan dengan cepat menggunakan tes cepat molekuler. Cepatnya dignosis ini bertujuan agar pasien dapat segera diobati jika ternyata positif menderita TBC.

Pasien yang telah terdiagnosis TBC diberikan konseling tentang pengobatan yang harus dijalaninya karena pengobatan TBC ini berlangsung lama yaitu selama 6 bulan. Pasien harus melakukan pengobatan sesuai peraturan dan jenis TBC yang dideritanya. Pengambilan obat tergantung pada perjanjian antara pasien dan petugas TBC. Pada beberapa Puskesmas, pasien harus mengambil obat seminggu sekali pada hari yang telah ditentukan. Pada hari tersebut pasien akan diberi persediaan obat selama seminggu kedepan. Namun ada juga Puskesmas yang membebaskan waktu kedatangan pasien sehingga pasien bisa datang setiap 2 minggu atau lebih selama ada pemberitahuan pada petugas TBC di Puskesmas. Tutur Wenni.

Oleh karena lamanya pengobatan dan banyaknya pasien TBC lanjut Wenni, maka ketersediaan obat menjadi hal yang sangat penting dalam menangani TBC. Umumnya Unit Farmasi Puskesmas akan segera membuat laporan permintaan obat sebelum kehabisan. Namun ada juga Puskesmas yang meminjam stok obat dari Puskesmas lain saat mengalami kehabisan obat. Oleh karena itu, sistem pencatatan dan pelaporan terkait TBC akan dilakukan secara internal setiap bulan serta dilaporkan ke Dinas Kesehatan setiap tiga bulan.

Hal ini bertujuan untuk memonitor bagaimana pelaksanaan program TBC di lapangan.

“Kami lakukan skrining kepada masyarakat untuk memutus penularan TBC,Wenni juga menuturkan, skrining dilakukan dengan memberikan pertanyaan kepada masyarakat terkait gejala TB. Yaitu, gejala batuk, sudah berapa lama batuk yang dialami, berat badan turun drastis, serta keadaan tubuh pada malam hari.

Dikatakan Wenni Syafitra, berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, jika ditemukan suspek baru akan dirujuk ke Puskesmas. Untuk selanjutnya, dilakukan pemeriksaan oleh dokter dan laboratorium.

“Akan kami berikan rujukan dan pemeriksaan selanjutnya untuk mengetahui status kesehatan,” tambahnya.

Wenni berpesan kepada masyarakat untuk mengetahui gejala TB. Kemudian, segera berobat agar mendapatkan penanganan yang tepat.

“Segera berobat jika ada anggota keluarga yang mengalami gejala TB,” tandasnya.