'
9 Zulhijjah 1447 H | Selasa, 26 Mei 2026
×
/ dunia
Parlemen Iran Dikabarkan Setujui Penutupan Selat Hormuz
| Senin, 23 Juni 2025
Editor : Red | Penulis : Red

Selat Hormuz

TEHERAN – Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran tengah menggodok keputusan akhir mengenai apakah akan menutup Selat Hormuz, dikansir Press TV Iran pada Ahad. Hal ini setelah parlemen dilaporkan menyetujui tindakan tersebut.

“Parlemen telah mencapai kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup, namun keputusan akhir mengenai hal ini ada di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi,” Komandan Garda Revolusi Ismail Kowsari, anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen, mengumumkan pada Ahad.

Dilansir Alarabiya, Keputusan untuk menutup selat yang menjadi jalur aliran sekitar 20 persen permintaan minyak dan gas global ini masih belum final. Namun Kowsari mengatakan kepada Klub Jurnalis Muda Iran bahwa hal tersebut merupakan agenda dan “akan dilakukan kapanpun diperlukan.”

Selat Hormuz

Pemerintah Iran mempertimbangkan berbagai opsi untuk merespons ancaman "agresi asing." Salah satu hal yang dipertimbangkan ialah kemungkinan menutup Selat Hormuz.

Pernyataan ini disampaikan anggota Presidium Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Behnam Saeedi. Demikian dilansir kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, pada Kamis (19/6/2025).

Untuk diketahui, Selat Hormuz adalah jalur penting perdagangan global. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melintasi selat selebar 33 km ini setiap hari. Ia berlokasi antara Iran selatan dan Jazirah Arab.

Bila opsi ini ditempuh Teheran, penutupan Selat Hormuz akan berdampak besar terhadap pasar energi global. Salah satunya, kenaikan harga minyak dunia.

Iran sebelumnya juga pernah mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai bentuk pembalasan atas tekanan dari negara-negara Barat. Sumber pelayaran yang dikutip oleh kantor berita Reuters menyebutkan, sejumlah kapal komersial kini mulai menghindari perairan Iran di sekitar selat tersebut, menyusul meningkatnya ketegangan.

Teluk Persia adalah perairan yang berbatasan dengan Iran, Irak, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Oman. Teluk itu meliputi area seluas sekitar 87 ribu mil persegi dengan kedalaman maksimum 100 meter. Selat Hormuz adalah satu-satunya jalur maritim untuk keluar dari teluk tersebut.

Selat tersebut memiliki lebar 33 kilometer pada titik tersempitnya. Namun, jalur pelayaran hanya selebar tiga kilometer di kedua arah. Saat ini, sekitar 50 kapal tanker minyak besar berusaha keluar dari Selat Hormuz, menurut laporan media. 

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), sekitar 20 juta barel per hari (mb/d) minyak mentah dan produk olahan melewati Selat Hormuz pada tahun 2023, mewakili hampir 30 persen dari total perdagangan minyak global. Sebagian besar volume ini—sekitar 70 persen—dikirim ke Asia, dengan China, India, dan Jepang sebagai penerima terbesar. 

Meskipun infrastruktur saluran pipa alternatif tersedia, namun jumlahnya terbatas. IEA memperkirakan hanya 4,2 mb/d minyak mentah yang dapat dialihkan melalui jalur darat, seperti jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi ke Laut Merah dan Jalur Pipa Minyak Mentah Abu Dhabi dari UEA ke Fujairah. Kapasitas ini mewakili hampir seperempat dari volume harian yang transit di Selat tersebut. 

“Setiap krisis yang berkepanjangan di Selat Hormuz tidak hanya akan mengganggu pengiriman dari produsen utama Teluk – Arab Saudi, UEA, Kuwait, Irak dan Qatar – tetapi juga membuat sebagian besar kapasitas produksi cadangan dunia, yang terkonsentrasi di Teluk Persia, tidak dapat diakses,” IEA memperingatkan dalam sebuah laporan.

Pasar gas alam cair (LNG) lebih rentan terhadap potensi gangguan. Semua ekspor LNG dari Qatar—ekspor LNG terbesar kedua di dunia—dan UEA harus melewati Selat tersebut. IEA melaporkan bahwa 90 miliar meter kubik (bcm) LNG transit di Selat tersebut dalam sepuluh bulan pertama tahun 2023, setara dengan 20 persen perdagangan LNG global.

Dengan ketiadaan rute alternatif yang layak untuk ekspor LNG dari Qatar atau UEA, penutupan maritim apa pun akan sangat memperketat pasokan global. Sekitar 80 persen dari volume LNG ini ditujukan ke Asia, sementara Eropa menerima sekitar 20 persen, yang berarti gangguan akan memperburuk persaingan antar kawasan, terutama di pasar yang ketat. *

Sumber: Republika.co.id

Index
Bupati Siak Gandeng SKK Migas dan BPKP, Seleksi Dirut BSP Masuk Babak Akhir
Demi Proses Administrasi Bantuan Sapi Presiden, Peternak Riau Kumpul di Kantor Gubri
Disdik Kota Pekanbaru Vidcon ESD Pertemukan Pelajar, Indonesia, Malaysia dan Thailand
Mandi di Sungai Kampar, Anak 13 Tahun Dilaporkan Hilang Tenggelam
Libur Panjang Tak Pengaruhi Jumlah Penumpang di Bandara SSK II Pekanbaru
Musda VI Demokrat Riau Akan di Gelar,Agung Nugroho Calon Tunggal Ketua DPD Periode 2026-2031
Ketua TP PKK Pekanbaru dan Siak Gelar Diskusi Bahas Pengelolaan Sampah Tepat Guna
Pemko Pekanbaru Siap Gelar Operasi Pasar Tekan Lonjakan Harga Minyakita
Dorong Ekonomi Berkelanjutan, Pemprov Riau Fokus Kembangkan UMKM Berbasis Syariah
Pemko Pekanbaru akan Membentuk Dinas Perikanan dan Peternakan untuk Menyukseskan Program MBG.
Index
Perkuat Rantai Dingin, Diskan Bengkalis Bina Pelaku Usaha Es Balok untuk Jaga Mutu Udang
Tim Pembina Posyandu Bengkalis Monitoring Dua Posyandu, Tinjau Implementasi 6 SPM
Pemkab Bengkalis Buka Seleksi Calon Komisaris PT. BLJ, Berikut Informasinya
MUI Bukit Batu Bersama PT Pertamina Patra Niaga RU II Sungai Pakning Sukses Gelar Bimtek Qurban Sesu
Festival Bakso Berbagi Kebahagiaan Bersama 1.000 Anak Panti Kota Pekanbaru
Gelar Program DSS, Diskominfotik Bengkalis Ajak Siswa SD Negeri 1 Jadi Generasi Cerdas Digital
Disdukcapil Bengkalis kembali Jemput Bola Perekaman KTP-el di SMAN 3 Bengkalis
Pekanbaru Melaju Cepat: Dari Program Prioritas hingga Dampak Nyata bagi Warga
Satu Tahun Kepemimpinan Agung dan Markarius, Fiskal Naik Singnifikan
Kisah Pilu Putri, Korban Narkoba yang Datang ke Rumah Dinas Bupati Siak
pemerintahan
Dorong Ekonomi Berkelanjutan, Pemprov Riau Fokus Kembangkan UMKM Berbasis Syariah
Pemko Pekanbaru akan Membentuk Dinas Perikanan dan Peternakan untuk Menyukseskan Program MBG.
Satu Tahun Kepemimpinan Agung dan Markarius, Fiskal Naik Singnifikan
Menteri LHK Hanif Dorong Pengakhiran Open Dumping, Pekanbaru Siapkan Teknologi Methane Capture
daerah
Bupati Siak Gandeng SKK Migas dan BPKP, Seleksi Dirut BSP Masuk Babak Akhir
Mandi di Sungai Kampar, Anak 13 Tahun Dilaporkan Hilang Tenggelam
Libur Panjang Tak Pengaruhi Jumlah Penumpang di Bandara SSK II Pekanbaru
Ketua TP PKK Pekanbaru dan Siak Gelar Diskusi Bahas Pengelolaan Sampah Tepat Guna
Politik
Musda VI Demokrat Riau Akan di Gelar,Agung Nugroho Calon Tunggal Ketua DPD Periode 2026-2031
 Pasangan Cawako Aman Menang Hasil Hitungan Cepat Raih 47 Persen Suara
Hasil Quick Count LSI Abdul Wahid-SF Hariyanto Unggul 42,39 Persen di Pilgub Riau
KPU Himbau Agar Masyarakat Datang ke TPS Gunakan Hak Suara

ekonomi
Bapenda Beri Penghargaan Taat Pajak kepada Perusahaan dan Warga
Hasil Uji Labor, Pemko Pekanbaru Pastikan Anggur Muscat Aman Dikonsumsi
UMKM EXPO Inhil Resmi di Tutup,Bupati Inhil,Semoga UMKM Makin Berkembang
Nasional
Dipukul Rata 26 Tahun, Tak Ada Lagi Masa Tunggu Haji 15 Tahun
Farhan Harumkan Riau Lewat Hafalan 10 Juz di STQH Nasional 2025
Rektor UII Kawatir Ada Cukong Dibalik Perguruan Tinggi Kelola Tambang
SKK Migas dan Polda Riau Tandatangani Perpanjangan Perjanjian Perjanjian Kerja Sama (PKS) SKK Migas

internasional
Parlemen Iran Dikabarkan Setujui Penutupan Selat Hormuz
Menteri Keamanan Israel Ancam Bubarkan Pemerintah Benjamin Netanyahu
Gelar Konpers Pertama, Taliban Janji Hormati Hak Perempuan Menurut Syariah
olahraga
Polda Riau Siap Gelar Event Lari RBR 2025, Terbesar di Sumatra dan Akan di Buka Kapolri
Asyrof Al Ghifari Mahasiswa FH UGM asal Bengkalis Wakili Indonesia pada Paris International Model Un
Pengurus Pengprov Muaythai Riau dan Pengurus kab/kota Jumpai Kabid Organisasi dan Bidang Hukum KONI
Muaythai Tampil di Perpisahan Sekolah, Ketua KONI: Muaythai akan Kita Jadikan Ekstrakurikuler Binaan

News Popular
Pilihan Redaksi
Daerah
Politik
Nasional
Serba Serbi
dunia

Parlemen Iran Dikabarkan Setujui Penutupan Selat Hormuz
Senin, 23 Juni 2025
Editor : Red | Penulis : Red
Selat Hormuz
Pemerintahan

OLAHRAGA

Pendidikan
lingkungan

TEHERAN – Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran tengah menggodok keputusan akhir mengenai apakah akan menutup Selat Hormuz, dikansir Press TV Iran pada Ahad. Hal ini setelah parlemen dilaporkan menyetujui tindakan tersebut.

“Parlemen telah mencapai kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup, namun keputusan akhir mengenai hal ini ada di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi,” Komandan Garda Revolusi Ismail Kowsari, anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen, mengumumkan pada Ahad.

Dilansir Alarabiya, Keputusan untuk menutup selat yang menjadi jalur aliran sekitar 20 persen permintaan minyak dan gas global ini masih belum final. Namun Kowsari mengatakan kepada Klub Jurnalis Muda Iran bahwa hal tersebut merupakan agenda dan “akan dilakukan kapanpun diperlukan.”

Selat Hormuz

Pemerintah Iran mempertimbangkan berbagai opsi untuk merespons ancaman "agresi asing." Salah satu hal yang dipertimbangkan ialah kemungkinan menutup Selat Hormuz.

Pernyataan ini disampaikan anggota Presidium Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Behnam Saeedi. Demikian dilansir kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, pada Kamis (19/6/2025).

Untuk diketahui, Selat Hormuz adalah jalur penting perdagangan global. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melintasi selat selebar 33 km ini setiap hari. Ia berlokasi antara Iran selatan dan Jazirah Arab.

Bila opsi ini ditempuh Teheran, penutupan Selat Hormuz akan berdampak besar terhadap pasar energi global. Salah satunya, kenaikan harga minyak dunia.

Iran sebelumnya juga pernah mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai bentuk pembalasan atas tekanan dari negara-negara Barat. Sumber pelayaran yang dikutip oleh kantor berita Reuters menyebutkan, sejumlah kapal komersial kini mulai menghindari perairan Iran di sekitar selat tersebut, menyusul meningkatnya ketegangan.

Teluk Persia adalah perairan yang berbatasan dengan Iran, Irak, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Oman. Teluk itu meliputi area seluas sekitar 87 ribu mil persegi dengan kedalaman maksimum 100 meter. Selat Hormuz adalah satu-satunya jalur maritim untuk keluar dari teluk tersebut.

Selat tersebut memiliki lebar 33 kilometer pada titik tersempitnya. Namun, jalur pelayaran hanya selebar tiga kilometer di kedua arah. Saat ini, sekitar 50 kapal tanker minyak besar berusaha keluar dari Selat Hormuz, menurut laporan media. 

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), sekitar 20 juta barel per hari (mb/d) minyak mentah dan produk olahan melewati Selat Hormuz pada tahun 2023, mewakili hampir 30 persen dari total perdagangan minyak global. Sebagian besar volume ini—sekitar 70 persen—dikirim ke Asia, dengan China, India, dan Jepang sebagai penerima terbesar. 

Meskipun infrastruktur saluran pipa alternatif tersedia, namun jumlahnya terbatas. IEA memperkirakan hanya 4,2 mb/d minyak mentah yang dapat dialihkan melalui jalur darat, seperti jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi ke Laut Merah dan Jalur Pipa Minyak Mentah Abu Dhabi dari UEA ke Fujairah. Kapasitas ini mewakili hampir seperempat dari volume harian yang transit di Selat tersebut. 

“Setiap krisis yang berkepanjangan di Selat Hormuz tidak hanya akan mengganggu pengiriman dari produsen utama Teluk – Arab Saudi, UEA, Kuwait, Irak dan Qatar – tetapi juga membuat sebagian besar kapasitas produksi cadangan dunia, yang terkonsentrasi di Teluk Persia, tidak dapat diakses,” IEA memperingatkan dalam sebuah laporan.

Pasar gas alam cair (LNG) lebih rentan terhadap potensi gangguan. Semua ekspor LNG dari Qatar—ekspor LNG terbesar kedua di dunia—dan UEA harus melewati Selat tersebut. IEA melaporkan bahwa 90 miliar meter kubik (bcm) LNG transit di Selat tersebut dalam sepuluh bulan pertama tahun 2023, setara dengan 20 persen perdagangan LNG global.

Dengan ketiadaan rute alternatif yang layak untuk ekspor LNG dari Qatar atau UEA, penutupan maritim apa pun akan sangat memperketat pasokan global. Sekitar 80 persen dari volume LNG ini ditujukan ke Asia, sementara Eropa menerima sekitar 20 persen, yang berarti gangguan akan memperburuk persaingan antar kawasan, terutama di pasar yang ketat. *

Sumber: Republika.co.id