'
18 Zulqaidah 1447 H | Selasa, 5 Mei 2026
×
/ nasional
Ini Panduan Isolasi Mandiri untuk Anak yang Positif Covid-19 dari IDAI
| Jumat, 16 Juli 2021
Editor : | Penulis : admin

Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI membuat panduan isolasi mandiri bagi anak yang mengalami Covid-19. Dalam panduan itu disebutkan bahwa isolasi mandiri untuk anak diperbolehkan apabila memenuhi beberapa syarat.

Di antaranya adalah anak tidak mengalami gejala atau asimptomatik. Atau hanya mengalami gejala ringan seperti batuk, pilek, demam, diare, muntah, dan ruam-ruam.

Isolasi mandiri juga diperbolehkan bila anak masih terlihat aktif, bisa makan dan minum serta lingkungan rumah atau kamar memiliki ventilasi yang baik.

Segera bawa anak ke rumah sakit bila anak menujukkan gejala seperti banyak tidur, napas cepat, ada cekungan di dada, dan hidung kembang kempis.

Kemudian saturasi oksigen anak di bawah 95 persen, mata merah, ruam, leher bengkak, demam lebih dari tujuh hari, tidak bisa makan dan minum, mata cekung, jarang buang air kecil dan terjadi penuruan kesadaran.

IDAI mengatakan bahwa orang tua tetap dapat mengasuh anak yang positif Covid-19. Namun, hanya disarankan bagi orang tua atau pengasuh yang berisiko rendah terhadap gejala Covid-19.

Jika ada anggota keluarga yang positif, maka dapat diisolasi bersama. Bila orang tua dan anak berbeda status Covid-19, disarankan berikan jarak tidur dua meter atau di kasur terpisah.

Alat yang perlu disediakan orang tua di rumah selama anak mengalami Covid-19 adalah termometer atau pengukur suhu dan oxymeter yaitu pengukur saturasi oksigen dan frekuensi nadi.

Selain itu, obat-obatan seperti obat demam, zinc dan multivitamin sepeti vitamin C, dan vitamin D3 juga perlu disiapkan.

IDAI menyarankan pemberian vitamin C untuk anak usia 1-3 tahun maksimal 400 mg/hari. Usia 4-8 tahun 600 mg/hari, usia 9-13 tahun maksimal 1200 mg/hari, dan usia 14-18 tahun maksimal 1800 mg/hari.

Sedangkan pemberian vitamin D3 untuk anak usia kurang dari 3 tahun 400 U/hari, anak 1000 U/hari, remaja 2000 U/hari dan remaja obesitas 5000 U/hari.

Selama menjalani isolasi mandiri, IDAI menyarankan anak usia di atas dua tahun untuk menggunakan masker dengan tepat. Berikan "istirahat masker" jika anak berada di ruangan sendiri atau ada jarak dua meter dari orang tua atau pengasuh.

Masker tidak perlu digunakan saat anak tidur. Orang tua atau pengasuh yang berada di dalam ruangan yang sama harus menggunakan masker atau pelindung mata bila memungkinkan.

Pastikan anak selalu berada di dalam rumah, menjaga jarak, mencuci tangan, menerapkan etika batuk.

Periksa suhu tubuh anak pada pagi dan malam hari, periksa juga saturasi oksigen dan frekuensi nadi.

Berikan ASI bila anak masih menyusui. Pastikan juga anak mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi dan pantau laju napasnya secara berkala.

IDAI menyebut tanda bahaya laju napas pada setiap anak berbeda-beda. Usia kurang dari dua bulan, laju napasnya disebut berbahaya jika lebih dari atau sama dengan 60 kali per menit. Usia 2 hingga 11 bulan lebih dari atau sama dengan 50 kali per menit.

Kemudian pada usia satu hingga lima tahun jika lebih dari 40 kali per menit. Dan usia lima tahun ke atas lebih dari 30 kali per menit.

IDAI menjelaskan umumnya gejala Covid-29 pada anak akan hilang setelah 14 hari. Anak dianjurkan melakukan pemeriksaan swab ulang 10-14 hari pertama gejala atau setelah swab pertama positif.

Bila tidak bisa melakukan pemeriksaan swab, maka disarankan isolasi 10 hari ditambah 3 hari setelah bebas gejala.

Pada penderita dengan gejala berat atau pasien kronik, umumnya masa menular lebih panjang, sehingga dokter yang akan menentukan kaoan selesai isolasi.

Index
Kisah Pilu Putri, Korban Narkoba yang Datang ke Rumah Dinas Bupati Siak
Pelaku Usaha Pekanbaru Riau Gelar Temu Ramah dan Sosialisasi Bersama Penggadaian
Bupati Siak, Perempuan NU Harus Aktif di Bidang Sosial dan Ekonomi
Menteri LHK Hanif Dorong Pengakhiran Open Dumping, Pekanbaru Siapkan Teknologi Methane Capture
Berhasil Tekan Kemiskinan dan Stunting, WaliKota Agung Terima Penghargaan
Harga Lebih Murah, Operasi Pasar Murah Pemprov Riau Pekan Ini Digelar di Pekanbaru dan Siak
Rakor DBH Sawit 2026: Pelalawan Tegaskan Komitmen Percepat Pembangunan Infrastruktur
Pekan Ini Operasi Pasar Murah Digelar di 3 Kabupaten, Berikut Lokasinya
Pemko Pekanbaru Jawab Pandangan Umum Fraksi Terkait LKPj 2025
Pemko Pekanbaru Koordinasi ke Pemprov Minta Bangun Drainase Jalan Soekarno Hatta
Index
Deportasi Perdana Pascalebaran, 32 Pekerja Migran dari Malaysia Tiba di Pelabuhan Dumai
HUT PUPR ke-2,Ketum Handoko,PUPR Terus Berkembang,Berkolaborasi dengan Pihak Pemerintah dan Swasta
Bupati Pelalawan H. Zukri Salurkan Bantuan untuk Masyarakat Jelang Idul Fitri
 Jalin Silaturrahmi,DPD Parsindo Riau Buka Puasa Bersama 137 Yatim dan Dhuafa
 Inspektorat Kota Pekanbaru dan Darma Wanita Berbagi 1000 Paket Takjil Gratis
Perkuat Sinergi Pengamanan Idulfitri, Bupati Siak Hadiri Rakor Operasi Lancang Kuning 2026
Polisi Bubarkan Kerumunan Pemuda di Pekanbaru untuk Antisipasi Balap Liar
Bupati Siak Afni, Hadiri Rakor Lintas Sektoral Operasi Ketupat Lancang Kuning 2026 di Polda Riau
Serap Aspirasi hingga Bahas Beasiswa
Bupati Siak Afni Yakin Generasi Muda Siak Mampu Tumbuh Menjadi Generasi Qur’ani
pemerintahan
Menteri LHK Hanif Dorong Pengakhiran Open Dumping, Pekanbaru Siapkan Teknologi Methane Capture
Berhasil Tekan Kemiskinan dan Stunting, WaliKota Agung Terima Penghargaan
Harga Lebih Murah, Operasi Pasar Murah Pemprov Riau Pekan Ini Digelar di Pekanbaru dan Siak
Pekan Ini Operasi Pasar Murah Digelar di 3 Kabupaten, Berikut Lokasinya
daerah
Bupati Siak, Perempuan NU Harus Aktif di Bidang Sosial dan Ekonomi
Rakor DBH Sawit 2026: Pelalawan Tegaskan Komitmen Percepat Pembangunan Infrastruktur
Perkuat Sinergi Pengamanan Idulfitri, Bupati Siak Hadiri Rakor Operasi Lancang Kuning 2026
Polisi Bubarkan Kerumunan Pemuda di Pekanbaru untuk Antisipasi Balap Liar
Politik
 Pasangan Cawako Aman Menang Hasil Hitungan Cepat Raih 47 Persen Suara
Hasil Quick Count LSI Abdul Wahid-SF Hariyanto Unggul 42,39 Persen di Pilgub Riau
KPU Himbau Agar Masyarakat Datang ke TPS Gunakan Hak Suara
Berikut Nama Lembaga Survei yang resmi Daftar ke KPU

ekonomi
Bapenda Beri Penghargaan Taat Pajak kepada Perusahaan dan Warga
Hasil Uji Labor, Pemko Pekanbaru Pastikan Anggur Muscat Aman Dikonsumsi
UMKM EXPO Inhil Resmi di Tutup,Bupati Inhil,Semoga UMKM Makin Berkembang
Nasional
Dipukul Rata 26 Tahun, Tak Ada Lagi Masa Tunggu Haji 15 Tahun
Farhan Harumkan Riau Lewat Hafalan 10 Juz di STQH Nasional 2025
Rektor UII Kawatir Ada Cukong Dibalik Perguruan Tinggi Kelola Tambang
SKK Migas dan Polda Riau Tandatangani Perpanjangan Perjanjian Perjanjian Kerja Sama (PKS) SKK Migas

internasional
Parlemen Iran Dikabarkan Setujui Penutupan Selat Hormuz
Menteri Keamanan Israel Ancam Bubarkan Pemerintah Benjamin Netanyahu
Gelar Konpers Pertama, Taliban Janji Hormati Hak Perempuan Menurut Syariah
olahraga
Polda Riau Siap Gelar Event Lari RBR 2025, Terbesar di Sumatra dan Akan di Buka Kapolri
Asyrof Al Ghifari Mahasiswa FH UGM asal Bengkalis Wakili Indonesia pada Paris International Model Un
Pengurus Pengprov Muaythai Riau dan Pengurus kab/kota Jumpai Kabid Organisasi dan Bidang Hukum KONI
Muaythai Tampil di Perpisahan Sekolah, Ketua KONI: Muaythai akan Kita Jadikan Ekstrakurikuler Binaan

News Popular
Pilihan Redaksi
Daerah
Politik
Nasional
Serba Serbi
nasional

Ini Panduan Isolasi Mandiri untuk Anak yang Positif Covid-19 dari IDAI
Jumat, 16 Juli 2021
Editor : | Penulis : admin
Pemerintahan

OLAHRAGA

Pendidikan
lingkungan

Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI membuat panduan isolasi mandiri bagi anak yang mengalami Covid-19. Dalam panduan itu disebutkan bahwa isolasi mandiri untuk anak diperbolehkan apabila memenuhi beberapa syarat.

Di antaranya adalah anak tidak mengalami gejala atau asimptomatik. Atau hanya mengalami gejala ringan seperti batuk, pilek, demam, diare, muntah, dan ruam-ruam.

Isolasi mandiri juga diperbolehkan bila anak masih terlihat aktif, bisa makan dan minum serta lingkungan rumah atau kamar memiliki ventilasi yang baik.

Segera bawa anak ke rumah sakit bila anak menujukkan gejala seperti banyak tidur, napas cepat, ada cekungan di dada, dan hidung kembang kempis.

Kemudian saturasi oksigen anak di bawah 95 persen, mata merah, ruam, leher bengkak, demam lebih dari tujuh hari, tidak bisa makan dan minum, mata cekung, jarang buang air kecil dan terjadi penuruan kesadaran.

IDAI mengatakan bahwa orang tua tetap dapat mengasuh anak yang positif Covid-19. Namun, hanya disarankan bagi orang tua atau pengasuh yang berisiko rendah terhadap gejala Covid-19.

Jika ada anggota keluarga yang positif, maka dapat diisolasi bersama. Bila orang tua dan anak berbeda status Covid-19, disarankan berikan jarak tidur dua meter atau di kasur terpisah.

Alat yang perlu disediakan orang tua di rumah selama anak mengalami Covid-19 adalah termometer atau pengukur suhu dan oxymeter yaitu pengukur saturasi oksigen dan frekuensi nadi.

Selain itu, obat-obatan seperti obat demam, zinc dan multivitamin sepeti vitamin C, dan vitamin D3 juga perlu disiapkan.

IDAI menyarankan pemberian vitamin C untuk anak usia 1-3 tahun maksimal 400 mg/hari. Usia 4-8 tahun 600 mg/hari, usia 9-13 tahun maksimal 1200 mg/hari, dan usia 14-18 tahun maksimal 1800 mg/hari.

Sedangkan pemberian vitamin D3 untuk anak usia kurang dari 3 tahun 400 U/hari, anak 1000 U/hari, remaja 2000 U/hari dan remaja obesitas 5000 U/hari.

Selama menjalani isolasi mandiri, IDAI menyarankan anak usia di atas dua tahun untuk menggunakan masker dengan tepat. Berikan "istirahat masker" jika anak berada di ruangan sendiri atau ada jarak dua meter dari orang tua atau pengasuh.

Masker tidak perlu digunakan saat anak tidur. Orang tua atau pengasuh yang berada di dalam ruangan yang sama harus menggunakan masker atau pelindung mata bila memungkinkan.

Pastikan anak selalu berada di dalam rumah, menjaga jarak, mencuci tangan, menerapkan etika batuk.

Periksa suhu tubuh anak pada pagi dan malam hari, periksa juga saturasi oksigen dan frekuensi nadi.

Berikan ASI bila anak masih menyusui. Pastikan juga anak mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi dan pantau laju napasnya secara berkala.

IDAI menyebut tanda bahaya laju napas pada setiap anak berbeda-beda. Usia kurang dari dua bulan, laju napasnya disebut berbahaya jika lebih dari atau sama dengan 60 kali per menit. Usia 2 hingga 11 bulan lebih dari atau sama dengan 50 kali per menit.

Kemudian pada usia satu hingga lima tahun jika lebih dari 40 kali per menit. Dan usia lima tahun ke atas lebih dari 30 kali per menit.

IDAI menjelaskan umumnya gejala Covid-29 pada anak akan hilang setelah 14 hari. Anak dianjurkan melakukan pemeriksaan swab ulang 10-14 hari pertama gejala atau setelah swab pertama positif.

Bila tidak bisa melakukan pemeriksaan swab, maka disarankan isolasi 10 hari ditambah 3 hari setelah bebas gejala.

Pada penderita dengan gejala berat atau pasien kronik, umumnya masa menular lebih panjang, sehingga dokter yang akan menentukan kaoan selesai isolasi.