'
19 Jumadil Awwal 1448 H | Sabtu, 31 Oktober 2026
×
/ bengkalis
Kemkomdigi Ingatkan Ancaman AI, Penipuan Kini Bisa Meniru Suara dan Identitas
| Kamis, 29 Oktober 2026
Editor : | Penulis :

SUPERRIAU.COM

Jakarta- Kecerdasan artifisial (AI) membuat penipuan digital semakin sulit dikenali karena pelaku dapat meniru suara, memalsukan identitas, hingga menyusun instruksi yang tampak meyakinkan.

Kementerian Komunikasi dan Digital mengingatkan bahwa keamanan siber kini harus mencakup pelindungan identitas dan kepercayaan masyarakat, bukan sekadar pertahanan sistem teknologi. Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Kementerian Komdigi Raden Wijaya Kusumawardhana menjelaskan bahwa perkembangan AI telah mengubah karakter ancaman digital. Serangan tidak lagi selalu dilakukan dengan membobol sistem, tetapi juga melalui manipulasi terhadap manusia yang menggunakan teknologi tersebut.

"Ancaman digital pun tidak lagi selalu dimulai dari upaya membobol sistem. Terkadang ancaman justru dimulai dari upaya memanipulasi manusia yang menggunakan sistem tersebut," ujarnya saat mewakili Menkomdigi Meutya Hafid dalam National Cybersecurity Connect (NCC) 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).

Menurutnya, teknologi AI memiliki dua sisi dalam keamanan siber. Di satu sisi, AI membantu mendeteksi anomali, menganalisis ancaman, dan mempercepat respons terhadap insiden.

Namun, kemampuan yang sama dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menghasilkan konten deepfake, melakukan penyamaran identitas, serta merancang penipuan yang semakin meyakinkan.

Ancaman tersebut dapat muncul melalui panggilan telepon dengan suara menyerupai anggota keluarga atau instruksi palsu yang seolah-olah berasal dari pimpinan.

Kondisi ini membuat masyarakat semakin sulit membedakan informasi asli dengan hasil manipulasi teknologi. "Perkembangan AI telah memperluas permukaan serangan hingga pada identitas, informasi dan kepercayaan manusia," katanya.

Wijaya menjelaskan bahwa ancaman berbasis manipulasi kepercayaan membutuhkan pendekatan keamanan yang lebih luas. Perlindungan tidak cukup mengandalkan perangkat teknologi, tetapi harus disertai tata kelola yang memadai, kesiapan kelembagaan, serta kemampuan masyarakat mengenali berbagai bentuk penipuan digital.

Karena itu, penguatan literasi keamanan digital menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan AI. Masyarakat perlu memiliki kemampuan memverifikasi identitas, mengenali informasi mencurigakan, melindungi data pribadi, dan memahami risiko penyalahgunaan teknologi dalam aktivitas sehari-hari.

"Kami memandang kemampuan masyarakat untuk mengenali penipuan, melindungi identitas, memahami risiko AI, dan menjaga keamanan informasi perlu terus menjadi bagian dari penguatan kapasitas digital nasional," tegasnya.

Dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks, Kemkomdigi juga menekankan pentingnya tata kelola AI berbasis risiko. Pendekatan tersebut mencakup pengujian keamanan, akuntabilitas sistem, serta pengembangan kemampuan nasional untuk mengantisipasi bentuk serangan baru.

Penguatan keamanan siber juga memerlukan keterlibatan manusia dalam penggunaan dan pengawasan teknologi AI. Dengan demikian, pemanfaatan AI untuk meningkatkan kemampuan pertahanan digital tetap disertai pengendalian terhadap risiko penyalahgunaannya.

"Keamanan siber pada era AI membutuhkan pendekatan yang lebih luas yang menggabungkan kemampuan teknologi, tata kelola, kesiapan kelembagaan serta kesadaran masyarakat," pungkasnya.

Index
Mahasiswa Politeknik Negeri Bengkalis Ikuti Kelas Pemilu, KPU Dorong Terwujudnya Demokrasi Inklusif
Kemkomdigi Ingatkan Ancaman AI, Penipuan Kini Bisa Meniru Suara dan Identitas
Bangun Ketahanan Digital, 69 Aplikasi Pemerintah Beroperasi di Pusat Data Nasional
Alhamdulillah, Labkesmas Bengkalis Raih Akreditasi Utama, Siap Tingkatkan Mutu Pelayanan
Bertemu USABC, Meutya Hafid Dorong Investasi Digital AS Beri Manfaat Nyata bagi Indonesia
Dewan Pendidikan Bengkalis Apresiasi K3S Bantan Gelar Lomba Cerdas Cermat Tingkat SD
Toreh Prestasi Internasional, Mahasiswa Polbeng Raih Gold Medal dan Special Award di IUIC 2026 Malay
Jurnalistik Cendekia Gelar REDAKSI, Ajak Anak Yayasan Aisyah Mengenal Literasi
Perkuat Tata Kelola Data Desa dan Kelurahan, Kecamatan Bengkalis Sosialisasikan Program Desa Cantik
Hadiri Pembukaan Musda XI DPD Partai Golkar, Bupati Kasmarni Ajak Perkuat Persatuan dan Sinergi Pemb
Index
Peringati Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Tengah Tantangan Fiskal, Wabup Ingatkan Peran Pemuda untuk Dae
Menkomdigi Meutya Hafid dan Kapolri Suyudi Perkuat Sinergi Berantas Judi Online Lintas Negara dan Pe
Bupati Kasmarni Terima Audiensi PKB Bengkalis, Perkuat Sinergi Bangun Daerah
Bupati Bengkalis Sampaikan Jawaban atas Pandangan Umum Tujuh Fraksi DPRD terhadap Ranperda APBD 2027
Peringatan Hari Santri 2026 di Ponpes Nurul Hidayah, Bupati Kasmarni Minta Santri Kuasai Iptek Menuj
Hadiri Paripurna DPRD, Bupati Bengkalis Harapkan Pandangan Umum Fraksi Jadi Bahan Penyempurnaan Ranp
Wabup Bengkalis Bagus Santoso Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh Lancang Kuning 2026, Perkuat S
Ranperda APBD 2027 Disampaikan, DBH Migas Bengkalis Diproyeksi Turun 80,61 Persen
Diskominfotik Gaungkan Literasi Digital dan Anti Perundungan di SDN 32 Bantan
Wabup Bagus Santoso Hadiri Pembukaan Rakornas TPAKD oleh Presiden Prabowo
pemerintahan
Wali Kota Pekanbaru: Rumah Dinas Terbuka Bagi Siapa Saja
Pekanbaru Bersujud, Wako Agung dan Ratusan Warga Mohon Hujan di Tengah Kepungan Asap
Sekolah di Pekanbaru Dialihkan ke Daring, MBG Tetap Disalurkan
SF Hariyanto Jadi Gubernur Pertama di Indonesia Raih Insinyur Profesional Utama
daerah
Mahasiswa Politeknik Negeri Bengkalis Ikuti Kelas Pemilu, KPU Dorong Terwujudnya Demokrasi Inklusif
Kemkomdigi Ingatkan Ancaman AI, Penipuan Kini Bisa Meniru Suara dan Identitas
Bangun Ketahanan Digital, 69 Aplikasi Pemerintah Beroperasi di Pusat Data Nasional
Alhamdulillah, Labkesmas Bengkalis Raih Akreditasi Utama, Siap Tingkatkan Mutu Pelayanan
Politik
Musda VI Demokrat Riau Akan di Gelar,Agung Nugroho Calon Tunggal Ketua DPD Periode 2026-2031
 Pasangan Cawako Aman Menang Hasil Hitungan Cepat Raih 47 Persen Suara
Hasil Quick Count LSI Abdul Wahid-SF Hariyanto Unggul 42,39 Persen di Pilgub Riau
KPU Himbau Agar Masyarakat Datang ke TPS Gunakan Hak Suara

ekonomi
Bapenda Beri Penghargaan Taat Pajak kepada Perusahaan dan Warga
Hasil Uji Labor, Pemko Pekanbaru Pastikan Anggur Muscat Aman Dikonsumsi
UMKM EXPO Inhil Resmi di Tutup,Bupati Inhil,Semoga UMKM Makin Berkembang
Nasional
Dipukul Rata 26 Tahun, Tak Ada Lagi Masa Tunggu Haji 15 Tahun
Farhan Harumkan Riau Lewat Hafalan 10 Juz di STQH Nasional 2025
Rektor UII Kawatir Ada Cukong Dibalik Perguruan Tinggi Kelola Tambang
SKK Migas dan Polda Riau Tandatangani Perpanjangan Perjanjian Perjanjian Kerja Sama (PKS) SKK Migas

internasional
Parlemen Iran Dikabarkan Setujui Penutupan Selat Hormuz
Menteri Keamanan Israel Ancam Bubarkan Pemerintah Benjamin Netanyahu
Gelar Konpers Pertama, Taliban Janji Hormati Hak Perempuan Menurut Syariah
olahraga
Polda Riau Siap Gelar Event Lari RBR 2025, Terbesar di Sumatra dan Akan di Buka Kapolri
Asyrof Al Ghifari Mahasiswa FH UGM asal Bengkalis Wakili Indonesia pada Paris International Model Un
Pengurus Pengprov Muaythai Riau dan Pengurus kab/kota Jumpai Kabid Organisasi dan Bidang Hukum KONI
Muaythai Tampil di Perpisahan Sekolah, Ketua KONI: Muaythai akan Kita Jadikan Ekstrakurikuler Binaan

News Popular
Pilihan Redaksi
Daerah
Politik
Nasional
Serba Serbi
bengkalis

Kemkomdigi Ingatkan Ancaman AI, Penipuan Kini Bisa Meniru Suara dan Identitas
Kamis, 29 Oktober 2026
Editor : | Penulis :
Pemerintahan

OLAHRAGA

Pendidikan
lingkungan

SUPERRIAU.COM

Jakarta- Kecerdasan artifisial (AI) membuat penipuan digital semakin sulit dikenali karena pelaku dapat meniru suara, memalsukan identitas, hingga menyusun instruksi yang tampak meyakinkan.

Kementerian Komunikasi dan Digital mengingatkan bahwa keamanan siber kini harus mencakup pelindungan identitas dan kepercayaan masyarakat, bukan sekadar pertahanan sistem teknologi. Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Kementerian Komdigi Raden Wijaya Kusumawardhana menjelaskan bahwa perkembangan AI telah mengubah karakter ancaman digital. Serangan tidak lagi selalu dilakukan dengan membobol sistem, tetapi juga melalui manipulasi terhadap manusia yang menggunakan teknologi tersebut.

"Ancaman digital pun tidak lagi selalu dimulai dari upaya membobol sistem. Terkadang ancaman justru dimulai dari upaya memanipulasi manusia yang menggunakan sistem tersebut," ujarnya saat mewakili Menkomdigi Meutya Hafid dalam National Cybersecurity Connect (NCC) 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).

Menurutnya, teknologi AI memiliki dua sisi dalam keamanan siber. Di satu sisi, AI membantu mendeteksi anomali, menganalisis ancaman, dan mempercepat respons terhadap insiden.

Namun, kemampuan yang sama dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menghasilkan konten deepfake, melakukan penyamaran identitas, serta merancang penipuan yang semakin meyakinkan.

Ancaman tersebut dapat muncul melalui panggilan telepon dengan suara menyerupai anggota keluarga atau instruksi palsu yang seolah-olah berasal dari pimpinan.

Kondisi ini membuat masyarakat semakin sulit membedakan informasi asli dengan hasil manipulasi teknologi. "Perkembangan AI telah memperluas permukaan serangan hingga pada identitas, informasi dan kepercayaan manusia," katanya.

Wijaya menjelaskan bahwa ancaman berbasis manipulasi kepercayaan membutuhkan pendekatan keamanan yang lebih luas. Perlindungan tidak cukup mengandalkan perangkat teknologi, tetapi harus disertai tata kelola yang memadai, kesiapan kelembagaan, serta kemampuan masyarakat mengenali berbagai bentuk penipuan digital.

Karena itu, penguatan literasi keamanan digital menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan AI. Masyarakat perlu memiliki kemampuan memverifikasi identitas, mengenali informasi mencurigakan, melindungi data pribadi, dan memahami risiko penyalahgunaan teknologi dalam aktivitas sehari-hari.

"Kami memandang kemampuan masyarakat untuk mengenali penipuan, melindungi identitas, memahami risiko AI, dan menjaga keamanan informasi perlu terus menjadi bagian dari penguatan kapasitas digital nasional," tegasnya.

Dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks, Kemkomdigi juga menekankan pentingnya tata kelola AI berbasis risiko. Pendekatan tersebut mencakup pengujian keamanan, akuntabilitas sistem, serta pengembangan kemampuan nasional untuk mengantisipasi bentuk serangan baru.

Penguatan keamanan siber juga memerlukan keterlibatan manusia dalam penggunaan dan pengawasan teknologi AI. Dengan demikian, pemanfaatan AI untuk meningkatkan kemampuan pertahanan digital tetap disertai pengendalian terhadap risiko penyalahgunaannya.

"Keamanan siber pada era AI membutuhkan pendekatan yang lebih luas yang menggabungkan kemampuan teknologi, tata kelola, kesiapan kelembagaan serta kesadaran masyarakat," pungkasnya.