'
20 Sya'ban 1447 H | Minggu, 8 Februari 2026
×
/ kuansing
Kisah Tuah Keramat Bukit Embun, Sang Juara Jalur dari Negeri Para Raja
| Kamis, 31 Agustus 2023
Editor : | Penulis : admin

Pekanbaru, Festival Pacu Jalur Tradisional 2023 telah sukses digelar. Jalur Tuah Keramat Bukit Embun dari Desa Gumanti, Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, berhasil menyabet juara satu. 

Jalur bertuah dan keramat dari daerah yang berjuluk “Negeri Para Raja” itu, meluncur hingga akhir perlombaan. Meraih juara wahid setelah mengalahkan Jalur Cakaran Garuda Muda KONI Riau, dari Desa Sungai Pinang, Kecamatan Hulu Kuantan, Kuansing.

Di waktu petang, nyaris senja, puluhan ribu penonton di Tepian Narosa senang bukan kepalang. Mereka bersemangat menjadi saksi kemenangan Jalur Tuah Keramat Bukit Embun. Lajunya sangat kencang, menembus riak gelombang Sungai Kuantan. Melesat seperti anak peluru.

Sebanyak 53 anak jalur (pedayung) Tuah Keramat Bukit Embun bersemangat mengayuh, kompak, dan bertenaga. Menerobos pancang-pancang meninggalkan Jalur Cakaran Garuda Muda KONI Riau. 

Dituturkan Kepala Desa Gumanti bernama Irjon, bahwa tahun ini merupakan pertama kali Jalur Tuah Keramat Bukit Embun bisa meraih piala bergilir Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf). Pada perhelatan pacu jalur sebelumnya, jalur tersebut harus puas menyabet posisi juara ketiga.

“Alhamdulillah tahun ini juara 1. Ini prestasi pertama bagi kami di event pacu jalur. Sebelumnya kami peringkat ke 3. Kalau pertandingan antar-rayon, kami sudah berkali-kali menempati posisi ketiga,” kata Irjon saat diwawancara Media Center Riau, pada pekan ini. 

Atas prestasi gemilang yang diraih timnya, pengurus Jalur Tuah Keramat Bukit Embun itu mengaku merasa senang bukan kepalang, berbaur haru. Irjon tak mengira kalau timnya bisa mencapai puncak dan mampu menyingkirkan 192  jalur lainnya. 

“Kalo perasaannya bercampur gitu ya kan, senang, terharu, dan bahagia. Tidak disangka tim Jalur Tuah Keramat Bukit Embun ini bisa mencapai puncak [juara 1],” ungkapnya. 

Perjuangan Tim Jalur Tuah Keramat Bukit Embun

Raihan prestasi yang telah dicapai tim Jalur Tuah Keramat Bukit Embun bukanlah hal yang mudah. Justru telah melalui lika-liku yang panjang. 

Dikisahkan Irjon, Jalur Tuah Keramat Bukit Embun dibentuk dengan tidak secara instan. Namun, prosesnya melalui perjuangan panjang sejak tahun 2019.

Jalur atau sampan panjang itu dibuat dari batang kayu glondongan berbobot besar. Kayu bulat yang digunakan adalah jenis meranti damar hitam asli dari hutan di pedalaman Indragiri Hulu. 

“Tahun 2019 setelah sampan jadi, tim ini langsung dibentuk. Telah banyak sekali perjuangan kami. Untuk sampan saja menggunakan kayu jenis meranti damar hitam. Proses pembuatannya itu sekitar satu bulanan lebih. Kita juga main angsur saja, karena modalnya lumayan besar. Menurunkan kayu dari hutan saja musti menggunakan 4 alat ekskavator,” ucap Irjon.

Diiungkapkan dia, proses kemenangan yang diraih tidak terlepas dari kerja keras dan doa seluruh warga Desa Gumanti. Ditambah lagi dengan teknik membaca strategi. Pihaknya sengaja menurunkan usia anak pacu berusia 17 hingga 47 tahun dengan kesehatan prima. 

Bahkan, dua bulan sebelum perlombaan berlangsung, seluruh pedayung sudah mengikuti jadwal latihan yang sangat ketat. Latihan dilaksanakan di Tepian Rengas Sakti, Desa Gumanti. 

Dalam waktu seminggu, sedikitnya ada tiga kali latihan dilakukan. Seluruh tim dari desa setempat dan desa tetangga diwajibkan datang tanpa terkecuali.  

“Dalam segi latihan kendalanya tentu memang ada, tapi kami tetap menerapkan kedisiplinan. Kalau satu minggu itu tidak datang tanpa keterangan ya kita keluarkan langsung," ucapnya. 

Selama latihan berlangsung, kata Irjon, pihaknya selalu menjaga kondisi fisik para pedayung. Kendati begitu, ia tidak membatasi makanan dan minuman yang dikonsumsi timnya. 

"Makanan tak ada pantangan khusus. Apa saja dimakan yang penting halal. Yang jelas kami sampai di puncak ini tidak lepas dari doa-doa dari masyarakat dan latihan yang ekstra, serta dukungan dari berbagai pihak. Terlebih, kami sampai buat dapur umum, ibaratnya satu kampung itu sudah ada di situ [Tepian Narosa],” Irjon menuturkan. 

Irjon membantah jika timnya disebut memiliki adikodrati atau ritual-ritual khusus. Namun, dirinya mengakui selama bertanding memang tak bisa dipungkiri ada pula yang menjadi tukang baca-baca doa untuk kemenangan Jalur Tuah Keramat Bukit Embun.

“Yang jelas kalau selama bertanding tukang baca-baca doanya ya ada. Tapi, tetap memohon kepada yang Maha Kuasa juga. Dalam istilahnya kami itu, bagian mistisnya merupakan sebagai langkah saja. Sementara, kalau untuk menguatkan pemain dan melajukan jalur ya itu dengan cara latihan tadi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Irjon menerangkan, untuk peserta Jalur Tuah Keramat Bukit Embun totalnya sebanyak 56 orang. Terbagi dari pemacu atau anak jalur sebanyak 53 orang, anak coki 1 orang, timbo ruang 1 orang, dan tukang onjai 1 orang. 

“Sebenarnya kalau dimuatkan 60 orang bisa saja. Namun, di atas itukan harus ada setelannya, semakin ramai orang kanpasti berat, dan pastinya menjadi lambat dia [jalur] bergerak. Yang terpenting juga berat badan pemain harus kita seleksi,” pungkasnya.

Perhelatan agenda pariwisata Kharisma Event Nusantara (KEN) Pacu Jalur Tradisional digelar pada 23 hingga 27 Agustus lalu. Diikuti oleh 193 jalur atau perahu panjang. Peserta Pacu Jalur berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dan kabupaten/kota lainnya yang ada di Riau.

Ratusan sponsor dari perusahaan, instansi pemerintah, pejabat, tokoh masyarakat hingga masyarakat biasa, bertaburan menjagokan jalur idolanya. Puluhan ribu manusia tumpah ruah menyaksikan event tahunan ini. Mereka berdatangan dari beberbagai daerah di nusantara hingga mancanegara. 

Index
Potensi Pendapatan Aryaduta Besar, Kontribusi ke Pemprov Riau Dinilai Terlalu Kecil
Ketua DPRD Riau Pastikan Evaluasi APBD 2026 Rampung, Penggunaan Anggaran Segera Dimulai
Pimpin Rapat OPD, Wako Minta Tingkatkan Kinerja di 2026
Bupati Bengkalis Serahkan SK PPPK Paruh Waktu, Tegaskan Disiplin, Integritas, dan Evaluasi Kinerja T
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
PGRI Kabupaten Bengkalis Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Sumatera Utara
Hadiri RAKERCAB Pemuda Pancasila, Bupati Bengkalis Tekankan Peran Strategis Ormas dalam Pembangunan
Bupati Bengkalis Raih Anugerah Baiduri ke-14, Wujud Apresiasi Perempuan untuk Perempuan
Index
Diikuti 71 Pasangan, Nikah Massal Pekanbaru Meriah Dipadati 10 Ribu Warga
 Anggota DPRD Kota Pekanbaru Nurul Ikhsan Jemput Aspirasi Warga di RT 05 RW 01 Sidomulyo Timur
Ketua DPRD Sambut Baik Larangan Plastik Pemko Pekanbaru, Dinilai Positif Atasi Sampah
Septian Nugraha Nahkodai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bengkalis
Buaya Raksasa Inhil Belum Mau Makan, Petugas Berikan Infus dan Antibiotik Khusus
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital BEJO’S di Pekanbaru
Pelalawan Sabet Dua Penghargaan Bergengsi di API Award 2025 Kalimantan Barat
 Sebanyak 769 ASN Pemko Pekanbaru Jalani Asesmen
Hari Pahlawan, Puluhan Veteran Dapat Sagu Hati dari Pemko Pekanbaru
Peringati Hari Pahlawan, Plt Gubri SF Hariyanto Ajak Bekerja Lebih Giat
pemerintahan
Potensi Pendapatan Aryaduta Besar, Kontribusi ke Pemprov Riau Dinilai Terlalu Kecil
Ketua DPRD Riau Pastikan Evaluasi APBD 2026 Rampung, Penggunaan Anggaran Segera Dimulai
Diikuti 71 Pasangan, Nikah Massal Pekanbaru Meriah Dipadati 10 Ribu Warga
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital BEJO’S di Pekanbaru
daerah
Pimpin Rapat OPD, Wako Minta Tingkatkan Kinerja di 2026
Bupati Bengkalis Serahkan SK PPPK Paruh Waktu, Tegaskan Disiplin, Integritas, dan Evaluasi Kinerja T
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
Politik
 Pasangan Cawako Aman Menang Hasil Hitungan Cepat Raih 47 Persen Suara
Hasil Quick Count LSI Abdul Wahid-SF Hariyanto Unggul 42,39 Persen di Pilgub Riau
KPU Himbau Agar Masyarakat Datang ke TPS Gunakan Hak Suara
Berikut Nama Lembaga Survei yang resmi Daftar ke KPU

ekonomi
Bapenda Beri Penghargaan Taat Pajak kepada Perusahaan dan Warga
Hasil Uji Labor, Pemko Pekanbaru Pastikan Anggur Muscat Aman Dikonsumsi
UMKM EXPO Inhil Resmi di Tutup,Bupati Inhil,Semoga UMKM Makin Berkembang
Nasional
Dipukul Rata 26 Tahun, Tak Ada Lagi Masa Tunggu Haji 15 Tahun
Farhan Harumkan Riau Lewat Hafalan 10 Juz di STQH Nasional 2025
Rektor UII Kawatir Ada Cukong Dibalik Perguruan Tinggi Kelola Tambang
SKK Migas dan Polda Riau Tandatangani Perpanjangan Perjanjian Perjanjian Kerja Sama (PKS) SKK Migas

internasional
Parlemen Iran Dikabarkan Setujui Penutupan Selat Hormuz
Menteri Keamanan Israel Ancam Bubarkan Pemerintah Benjamin Netanyahu
Gelar Konpers Pertama, Taliban Janji Hormati Hak Perempuan Menurut Syariah
olahraga
Polda Riau Siap Gelar Event Lari RBR 2025, Terbesar di Sumatra dan Akan di Buka Kapolri
Asyrof Al Ghifari Mahasiswa FH UGM asal Bengkalis Wakili Indonesia pada Paris International Model Un
Pengurus Pengprov Muaythai Riau dan Pengurus kab/kota Jumpai Kabid Organisasi dan Bidang Hukum KONI
Muaythai Tampil di Perpisahan Sekolah, Ketua KONI: Muaythai akan Kita Jadikan Ekstrakurikuler Binaan

News Popular
Pilihan Redaksi
Daerah
Politik
Nasional
Serba Serbi
kuansing

Kisah Tuah Keramat Bukit Embun, Sang Juara Jalur dari Negeri Para Raja
Kamis, 31 Agustus 2023
Editor : | Penulis : admin
Pemerintahan

OLAHRAGA

Pendidikan
lingkungan

Pekanbaru, Festival Pacu Jalur Tradisional 2023 telah sukses digelar. Jalur Tuah Keramat Bukit Embun dari Desa Gumanti, Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, berhasil menyabet juara satu. 

Jalur bertuah dan keramat dari daerah yang berjuluk “Negeri Para Raja” itu, meluncur hingga akhir perlombaan. Meraih juara wahid setelah mengalahkan Jalur Cakaran Garuda Muda KONI Riau, dari Desa Sungai Pinang, Kecamatan Hulu Kuantan, Kuansing.

Di waktu petang, nyaris senja, puluhan ribu penonton di Tepian Narosa senang bukan kepalang. Mereka bersemangat menjadi saksi kemenangan Jalur Tuah Keramat Bukit Embun. Lajunya sangat kencang, menembus riak gelombang Sungai Kuantan. Melesat seperti anak peluru.

Sebanyak 53 anak jalur (pedayung) Tuah Keramat Bukit Embun bersemangat mengayuh, kompak, dan bertenaga. Menerobos pancang-pancang meninggalkan Jalur Cakaran Garuda Muda KONI Riau. 

Dituturkan Kepala Desa Gumanti bernama Irjon, bahwa tahun ini merupakan pertama kali Jalur Tuah Keramat Bukit Embun bisa meraih piala bergilir Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf). Pada perhelatan pacu jalur sebelumnya, jalur tersebut harus puas menyabet posisi juara ketiga.

“Alhamdulillah tahun ini juara 1. Ini prestasi pertama bagi kami di event pacu jalur. Sebelumnya kami peringkat ke 3. Kalau pertandingan antar-rayon, kami sudah berkali-kali menempati posisi ketiga,” kata Irjon saat diwawancara Media Center Riau, pada pekan ini. 

Atas prestasi gemilang yang diraih timnya, pengurus Jalur Tuah Keramat Bukit Embun itu mengaku merasa senang bukan kepalang, berbaur haru. Irjon tak mengira kalau timnya bisa mencapai puncak dan mampu menyingkirkan 192  jalur lainnya. 

“Kalo perasaannya bercampur gitu ya kan, senang, terharu, dan bahagia. Tidak disangka tim Jalur Tuah Keramat Bukit Embun ini bisa mencapai puncak [juara 1],” ungkapnya. 

Perjuangan Tim Jalur Tuah Keramat Bukit Embun

Raihan prestasi yang telah dicapai tim Jalur Tuah Keramat Bukit Embun bukanlah hal yang mudah. Justru telah melalui lika-liku yang panjang. 

Dikisahkan Irjon, Jalur Tuah Keramat Bukit Embun dibentuk dengan tidak secara instan. Namun, prosesnya melalui perjuangan panjang sejak tahun 2019.

Jalur atau sampan panjang itu dibuat dari batang kayu glondongan berbobot besar. Kayu bulat yang digunakan adalah jenis meranti damar hitam asli dari hutan di pedalaman Indragiri Hulu. 

“Tahun 2019 setelah sampan jadi, tim ini langsung dibentuk. Telah banyak sekali perjuangan kami. Untuk sampan saja menggunakan kayu jenis meranti damar hitam. Proses pembuatannya itu sekitar satu bulanan lebih. Kita juga main angsur saja, karena modalnya lumayan besar. Menurunkan kayu dari hutan saja musti menggunakan 4 alat ekskavator,” ucap Irjon.

Diiungkapkan dia, proses kemenangan yang diraih tidak terlepas dari kerja keras dan doa seluruh warga Desa Gumanti. Ditambah lagi dengan teknik membaca strategi. Pihaknya sengaja menurunkan usia anak pacu berusia 17 hingga 47 tahun dengan kesehatan prima. 

Bahkan, dua bulan sebelum perlombaan berlangsung, seluruh pedayung sudah mengikuti jadwal latihan yang sangat ketat. Latihan dilaksanakan di Tepian Rengas Sakti, Desa Gumanti. 

Dalam waktu seminggu, sedikitnya ada tiga kali latihan dilakukan. Seluruh tim dari desa setempat dan desa tetangga diwajibkan datang tanpa terkecuali.  

“Dalam segi latihan kendalanya tentu memang ada, tapi kami tetap menerapkan kedisiplinan. Kalau satu minggu itu tidak datang tanpa keterangan ya kita keluarkan langsung," ucapnya. 

Selama latihan berlangsung, kata Irjon, pihaknya selalu menjaga kondisi fisik para pedayung. Kendati begitu, ia tidak membatasi makanan dan minuman yang dikonsumsi timnya. 

"Makanan tak ada pantangan khusus. Apa saja dimakan yang penting halal. Yang jelas kami sampai di puncak ini tidak lepas dari doa-doa dari masyarakat dan latihan yang ekstra, serta dukungan dari berbagai pihak. Terlebih, kami sampai buat dapur umum, ibaratnya satu kampung itu sudah ada di situ [Tepian Narosa],” Irjon menuturkan. 

Irjon membantah jika timnya disebut memiliki adikodrati atau ritual-ritual khusus. Namun, dirinya mengakui selama bertanding memang tak bisa dipungkiri ada pula yang menjadi tukang baca-baca doa untuk kemenangan Jalur Tuah Keramat Bukit Embun.

“Yang jelas kalau selama bertanding tukang baca-baca doanya ya ada. Tapi, tetap memohon kepada yang Maha Kuasa juga. Dalam istilahnya kami itu, bagian mistisnya merupakan sebagai langkah saja. Sementara, kalau untuk menguatkan pemain dan melajukan jalur ya itu dengan cara latihan tadi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Irjon menerangkan, untuk peserta Jalur Tuah Keramat Bukit Embun totalnya sebanyak 56 orang. Terbagi dari pemacu atau anak jalur sebanyak 53 orang, anak coki 1 orang, timbo ruang 1 orang, dan tukang onjai 1 orang. 

“Sebenarnya kalau dimuatkan 60 orang bisa saja. Namun, di atas itukan harus ada setelannya, semakin ramai orang kanpasti berat, dan pastinya menjadi lambat dia [jalur] bergerak. Yang terpenting juga berat badan pemain harus kita seleksi,” pungkasnya.

Perhelatan agenda pariwisata Kharisma Event Nusantara (KEN) Pacu Jalur Tradisional digelar pada 23 hingga 27 Agustus lalu. Diikuti oleh 193 jalur atau perahu panjang. Peserta Pacu Jalur berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dan kabupaten/kota lainnya yang ada di Riau.

Ratusan sponsor dari perusahaan, instansi pemerintah, pejabat, tokoh masyarakat hingga masyarakat biasa, bertaburan menjagokan jalur idolanya. Puluhan ribu manusia tumpah ruah menyaksikan event tahunan ini. Mereka berdatangan dari beberbagai daerah di nusantara hingga mancanegara.