'
20 Sya'ban 1447 H | Minggu, 8 Februari 2026
×
/ pekanbaru
Kisah Petani Pelalawan yang Berani Bermimpi Besar di Dunia Agribisnis
| Sabtu, 1 Oktober 2022
Editor : | Penulis : admin

 Suwatno (54) warga Desa Makmur, Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, akhirnya memilih untuk menekuni hobi yang disukainya sejak kecil ketika bersama orang tuanya di kampung. 

Sempat bekerja sebagai honorer di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pangkalan Kerinci, Suwatno ternyata melihat adanya peluang lebih baik dari hobinya tersebut.

Ia kemudian memberanikan diri untuk mengambil sebuah keputusan besar. Apalagi setelah bergabung dengan kelompok tani Timbul Jaya di desanya, Suwatno makin mantap membangun mimpinya sebagai pengusaha di bidang agribisnis.

"Saya mulai bertani sejak tahun 2007 dan bercocok tanam ini adalah salah satu keahlian saya yang menjadi sumber penghasilan, kata Suwatno, dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (1/10/2022). 

"Dulu sepulang mengajar atau pas ada waktu luang, selalu saya manfaatkan waktu untuk bertani. Lama kelamaan rasanya kok keinginan bertani saya begitu kuat hingga akhirnya saya putuskan berhenti dari guru honor tahun 2017 lalu," kenang Suwatno.

Meski sudah 10 tahun mengabdi sebagai guru honor, namun semangatnya yang besar untuk mengembangkan pertanian lokal membuatnya berani melepas profesi tersebut. Ditambah, adanya dukungan dari program agribisnis PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang selama ini berperan aktif dalam membina, mendampingi penyuluhan, memberikan pelatihan serta bantuan Saprodi (sarana produksi pertanian) untuk kelompok tani.

“Lewat bantuan PT RAPP, saya sangat terbantu karena dapat mengembangkan keterampilan pertanian. Pada awal usaha tani, kami juga dibantu benih, pupuk maupun obat tanaman oleh PT RAPP yang sangat diperlukan oleh kelompok tani,” ujar Suwatno.

Tak hanya itu, perusahaan bagian dari grup APRIL ini juga membantu membuka peluang pasar yang memudahkan Suwatno dalam memasarkan produknya. Ragam hasil pertanian yang diusahakan Suwatno antara lain cabai, melon, jagung, hingga kacang panjang.

Cabai dan sayuran dari kebun Suwatno sudah menjadi salah satu penyuplai kebutuhan pasar lokal di sekitaran wilayah Pangkalan Kerinci. 

"Sampai sekarang ada terus yang ambil (produk tani). Kalau untuk cabai dan sayuran saat ini belum ada yang keluar kota, ataupun provinsi. Karena mayoritas masyarakatnya di sini tingkat konsumsi kebutuhannya cukup tinggi," jelas Suwatno.

Sedangkan tanaman buah melon dari kebun Suwatno sudah merambah hingga ke luar daerah, yakni ke Kota Pekanbaru.

"Kalau buah melon ada yang jemput, untuk dipasarkan sampai ke luar daerah dan Pekanbaru," imbuhnya.

Dikisahkannya lagi, saat awal mencoba menanam melon dulu, banyak orang yang mempertanyakan keputusannya itu. Sebab, seperti sudah ada dalam benak kebanyakan orang di Riau, bahwa suhu di daerah ini yang memang panas, tak akan cocok ditanami dengan buah seperti melon.

"Banyak yang bilang Riau ini daerah panas, tidak cocok untuk bercocok tanam hortikultura. 'Bagusnya kelapa sawit'," katanya menirukan kritikan banyak orang kepadanya. 

Namun Suwatno tak menyerah begitu saja. Sebab, dia yakin yang penting ada kemauan untuk bergerak. Apalagi, teknologi tepat guna (TPG) telah mulai diterapkannya.

"Yang penting itu kita mau mencoba untuk berinovasi dalam pertanian, buktinya ini kita nanam melon, cabai, besar juga hasil yang didapat," katanya bangga.

Hasil dari kebunnya juga sudah ada pangsa pasar yang tetap dan ke depannya justru diharapkan bisa menjangkau daerah yang lebih luas lagi, seiring dengan target produksi yang akan meningkat. Untuk saat ini, katanya, memang baru sekitar wilayah Pelalawan hingga Pekanbaru dulu.

“Salah satu keuntungan jadi petani di Pelalawan karena bahan pangan di daerah ini masih banyak yang dipasok dari luar daerah, sehingga jika kita tanam di sini, jadi lebih menguntungkan karena dibutuhkan. Setiap bulan, penghasilan bersih yang saya bisa dapatkan mencapai Rp4 juta," ujarnya.

Ekonomi keluarganya jauh lebih terjamin dibanding masih mengabdi sebagai guru honor komite yang dulu hanya bergaji Rp1,5 juta per bulan.

Saat ini, Suwatno menjalankan bisnis pertaniannya secara mandiri dan bisa memenuhi modal sarana produksi secara swadaya.

Suwatno berpesan kepada generasi muda agar jangan malu untuk menjadi petani. Sekarang ini, teknologi semakin maju untuk membantu usaha pertanian dan sangat menguntungkan bila sudah tahu tips dan trik di lapangan.

Saat ini, sebanyak 27 kelompok tani dengan anggota 307 petani aktif binaan program Community Development (CD) PT RAPP di Kabupaten Pelalawan. Kelompok tani tersebut bergerak di berbagai bidang di antaranya holtikultura, perikanan, OVOC (One Village One Commodity) seperti nanas, semangka, jambu dan durian, peternakan dan padi sawah.

Koordinator Agribisnis CD PT RAPP, Zamzuli Hidayat mengatakan keberadaan program agribisnis bertujuan untuk membawa kemandirian bagi para petani. 

“Melalui program agribinis ini kita melihat apa yang masih dibutuhkan oleh petani, lalu kita lakukan pembinaan, sampai sekarang programnya berjalan lancar dan rata-rata sudah menjadi penghasilan tambahan bagi petani. Contohnya semangka yang telah menjadi komoditas utama Kelompok Tani Catur Bina Karsa di Pangkalan Kerinci Barat, kemudian Kelompok Tani Timbul Jaya ini juga memfasilitasi pelaporan kegiatan proklim ke Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan (KLHK),” ujar Zamzuli. 

Zamzuli menambahkan, dalam upaya pembinaan dan pendampingan, tim dari CD Officer dan PMB (Pemantau Mitra Bina) berkunjung secara berkala ke setiap kelompok tani. Di samping itu, para petani juga diberikan pelatihan, saprodi, bantuan pupuk serta pemasaran untuk menjual hasil pertanian.

“Yang paling penting kita latih keterampilannya dulu lalu menyamakan persepsi tentang budidaya yang baik, setelah itu baru kita dukung yang lain,” kata Zamzuli.

Program Agribisnis yang dijalankan oleh grup APRIL ini merupakan salah satu perwujudan komitmen transformatif APRIL2030 untuk mendukung tujuan pembangunan keberlanjutan (sustainable development goals/ SDGs) di tahun 2030.

Komitmen tersebut antara lain kemajuan inklusif, pengurangan angka kemiskinan ekstrim dalam radius 50 kilometer dalam wilayah operasional grup APRIL. 

Index
Potensi Pendapatan Aryaduta Besar, Kontribusi ke Pemprov Riau Dinilai Terlalu Kecil
Ketua DPRD Riau Pastikan Evaluasi APBD 2026 Rampung, Penggunaan Anggaran Segera Dimulai
Pimpin Rapat OPD, Wako Minta Tingkatkan Kinerja di 2026
Bupati Bengkalis Serahkan SK PPPK Paruh Waktu, Tegaskan Disiplin, Integritas, dan Evaluasi Kinerja T
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
PGRI Kabupaten Bengkalis Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Sumatera Utara
Hadiri RAKERCAB Pemuda Pancasila, Bupati Bengkalis Tekankan Peran Strategis Ormas dalam Pembangunan
Bupati Bengkalis Raih Anugerah Baiduri ke-14, Wujud Apresiasi Perempuan untuk Perempuan
Index
Diikuti 71 Pasangan, Nikah Massal Pekanbaru Meriah Dipadati 10 Ribu Warga
 Anggota DPRD Kota Pekanbaru Nurul Ikhsan Jemput Aspirasi Warga di RT 05 RW 01 Sidomulyo Timur
Ketua DPRD Sambut Baik Larangan Plastik Pemko Pekanbaru, Dinilai Positif Atasi Sampah
Septian Nugraha Nahkodai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bengkalis
Buaya Raksasa Inhil Belum Mau Makan, Petugas Berikan Infus dan Antibiotik Khusus
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital BEJO’S di Pekanbaru
Pelalawan Sabet Dua Penghargaan Bergengsi di API Award 2025 Kalimantan Barat
 Sebanyak 769 ASN Pemko Pekanbaru Jalani Asesmen
Hari Pahlawan, Puluhan Veteran Dapat Sagu Hati dari Pemko Pekanbaru
Peringati Hari Pahlawan, Plt Gubri SF Hariyanto Ajak Bekerja Lebih Giat
pemerintahan
Potensi Pendapatan Aryaduta Besar, Kontribusi ke Pemprov Riau Dinilai Terlalu Kecil
Ketua DPRD Riau Pastikan Evaluasi APBD 2026 Rampung, Penggunaan Anggaran Segera Dimulai
Diikuti 71 Pasangan, Nikah Massal Pekanbaru Meriah Dipadati 10 Ribu Warga
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital BEJO’S di Pekanbaru
daerah
Pimpin Rapat OPD, Wako Minta Tingkatkan Kinerja di 2026
Bupati Bengkalis Serahkan SK PPPK Paruh Waktu, Tegaskan Disiplin, Integritas, dan Evaluasi Kinerja T
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
Refleksi Akhir Tahun Pemko Pekanbaru, Pembangunan dan PAD Meningkat
Politik
 Pasangan Cawako Aman Menang Hasil Hitungan Cepat Raih 47 Persen Suara
Hasil Quick Count LSI Abdul Wahid-SF Hariyanto Unggul 42,39 Persen di Pilgub Riau
KPU Himbau Agar Masyarakat Datang ke TPS Gunakan Hak Suara
Berikut Nama Lembaga Survei yang resmi Daftar ke KPU

ekonomi
Bapenda Beri Penghargaan Taat Pajak kepada Perusahaan dan Warga
Hasil Uji Labor, Pemko Pekanbaru Pastikan Anggur Muscat Aman Dikonsumsi
UMKM EXPO Inhil Resmi di Tutup,Bupati Inhil,Semoga UMKM Makin Berkembang
Nasional
Dipukul Rata 26 Tahun, Tak Ada Lagi Masa Tunggu Haji 15 Tahun
Farhan Harumkan Riau Lewat Hafalan 10 Juz di STQH Nasional 2025
Rektor UII Kawatir Ada Cukong Dibalik Perguruan Tinggi Kelola Tambang
SKK Migas dan Polda Riau Tandatangani Perpanjangan Perjanjian Perjanjian Kerja Sama (PKS) SKK Migas

internasional
Parlemen Iran Dikabarkan Setujui Penutupan Selat Hormuz
Menteri Keamanan Israel Ancam Bubarkan Pemerintah Benjamin Netanyahu
Gelar Konpers Pertama, Taliban Janji Hormati Hak Perempuan Menurut Syariah
olahraga
Polda Riau Siap Gelar Event Lari RBR 2025, Terbesar di Sumatra dan Akan di Buka Kapolri
Asyrof Al Ghifari Mahasiswa FH UGM asal Bengkalis Wakili Indonesia pada Paris International Model Un
Pengurus Pengprov Muaythai Riau dan Pengurus kab/kota Jumpai Kabid Organisasi dan Bidang Hukum KONI
Muaythai Tampil di Perpisahan Sekolah, Ketua KONI: Muaythai akan Kita Jadikan Ekstrakurikuler Binaan

News Popular
Pilihan Redaksi
Daerah
Politik
Nasional
Serba Serbi
pekanbaru

Kisah Petani Pelalawan yang Berani Bermimpi Besar di Dunia Agribisnis
Sabtu, 1 Oktober 2022
Editor : | Penulis : admin
Pemerintahan

OLAHRAGA

Pendidikan
lingkungan

 Suwatno (54) warga Desa Makmur, Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, akhirnya memilih untuk menekuni hobi yang disukainya sejak kecil ketika bersama orang tuanya di kampung. 

Sempat bekerja sebagai honorer di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pangkalan Kerinci, Suwatno ternyata melihat adanya peluang lebih baik dari hobinya tersebut.

Ia kemudian memberanikan diri untuk mengambil sebuah keputusan besar. Apalagi setelah bergabung dengan kelompok tani Timbul Jaya di desanya, Suwatno makin mantap membangun mimpinya sebagai pengusaha di bidang agribisnis.

"Saya mulai bertani sejak tahun 2007 dan bercocok tanam ini adalah salah satu keahlian saya yang menjadi sumber penghasilan, kata Suwatno, dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (1/10/2022). 

"Dulu sepulang mengajar atau pas ada waktu luang, selalu saya manfaatkan waktu untuk bertani. Lama kelamaan rasanya kok keinginan bertani saya begitu kuat hingga akhirnya saya putuskan berhenti dari guru honor tahun 2017 lalu," kenang Suwatno.

Meski sudah 10 tahun mengabdi sebagai guru honor, namun semangatnya yang besar untuk mengembangkan pertanian lokal membuatnya berani melepas profesi tersebut. Ditambah, adanya dukungan dari program agribisnis PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang selama ini berperan aktif dalam membina, mendampingi penyuluhan, memberikan pelatihan serta bantuan Saprodi (sarana produksi pertanian) untuk kelompok tani.

“Lewat bantuan PT RAPP, saya sangat terbantu karena dapat mengembangkan keterampilan pertanian. Pada awal usaha tani, kami juga dibantu benih, pupuk maupun obat tanaman oleh PT RAPP yang sangat diperlukan oleh kelompok tani,” ujar Suwatno.

Tak hanya itu, perusahaan bagian dari grup APRIL ini juga membantu membuka peluang pasar yang memudahkan Suwatno dalam memasarkan produknya. Ragam hasil pertanian yang diusahakan Suwatno antara lain cabai, melon, jagung, hingga kacang panjang.

Cabai dan sayuran dari kebun Suwatno sudah menjadi salah satu penyuplai kebutuhan pasar lokal di sekitaran wilayah Pangkalan Kerinci. 

"Sampai sekarang ada terus yang ambil (produk tani). Kalau untuk cabai dan sayuran saat ini belum ada yang keluar kota, ataupun provinsi. Karena mayoritas masyarakatnya di sini tingkat konsumsi kebutuhannya cukup tinggi," jelas Suwatno.

Sedangkan tanaman buah melon dari kebun Suwatno sudah merambah hingga ke luar daerah, yakni ke Kota Pekanbaru.

"Kalau buah melon ada yang jemput, untuk dipasarkan sampai ke luar daerah dan Pekanbaru," imbuhnya.

Dikisahkannya lagi, saat awal mencoba menanam melon dulu, banyak orang yang mempertanyakan keputusannya itu. Sebab, seperti sudah ada dalam benak kebanyakan orang di Riau, bahwa suhu di daerah ini yang memang panas, tak akan cocok ditanami dengan buah seperti melon.

"Banyak yang bilang Riau ini daerah panas, tidak cocok untuk bercocok tanam hortikultura. 'Bagusnya kelapa sawit'," katanya menirukan kritikan banyak orang kepadanya. 

Namun Suwatno tak menyerah begitu saja. Sebab, dia yakin yang penting ada kemauan untuk bergerak. Apalagi, teknologi tepat guna (TPG) telah mulai diterapkannya.

"Yang penting itu kita mau mencoba untuk berinovasi dalam pertanian, buktinya ini kita nanam melon, cabai, besar juga hasil yang didapat," katanya bangga.

Hasil dari kebunnya juga sudah ada pangsa pasar yang tetap dan ke depannya justru diharapkan bisa menjangkau daerah yang lebih luas lagi, seiring dengan target produksi yang akan meningkat. Untuk saat ini, katanya, memang baru sekitar wilayah Pelalawan hingga Pekanbaru dulu.

“Salah satu keuntungan jadi petani di Pelalawan karena bahan pangan di daerah ini masih banyak yang dipasok dari luar daerah, sehingga jika kita tanam di sini, jadi lebih menguntungkan karena dibutuhkan. Setiap bulan, penghasilan bersih yang saya bisa dapatkan mencapai Rp4 juta," ujarnya.

Ekonomi keluarganya jauh lebih terjamin dibanding masih mengabdi sebagai guru honor komite yang dulu hanya bergaji Rp1,5 juta per bulan.

Saat ini, Suwatno menjalankan bisnis pertaniannya secara mandiri dan bisa memenuhi modal sarana produksi secara swadaya.

Suwatno berpesan kepada generasi muda agar jangan malu untuk menjadi petani. Sekarang ini, teknologi semakin maju untuk membantu usaha pertanian dan sangat menguntungkan bila sudah tahu tips dan trik di lapangan.

Saat ini, sebanyak 27 kelompok tani dengan anggota 307 petani aktif binaan program Community Development (CD) PT RAPP di Kabupaten Pelalawan. Kelompok tani tersebut bergerak di berbagai bidang di antaranya holtikultura, perikanan, OVOC (One Village One Commodity) seperti nanas, semangka, jambu dan durian, peternakan dan padi sawah.

Koordinator Agribisnis CD PT RAPP, Zamzuli Hidayat mengatakan keberadaan program agribisnis bertujuan untuk membawa kemandirian bagi para petani. 

“Melalui program agribinis ini kita melihat apa yang masih dibutuhkan oleh petani, lalu kita lakukan pembinaan, sampai sekarang programnya berjalan lancar dan rata-rata sudah menjadi penghasilan tambahan bagi petani. Contohnya semangka yang telah menjadi komoditas utama Kelompok Tani Catur Bina Karsa di Pangkalan Kerinci Barat, kemudian Kelompok Tani Timbul Jaya ini juga memfasilitasi pelaporan kegiatan proklim ke Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan (KLHK),” ujar Zamzuli. 

Zamzuli menambahkan, dalam upaya pembinaan dan pendampingan, tim dari CD Officer dan PMB (Pemantau Mitra Bina) berkunjung secara berkala ke setiap kelompok tani. Di samping itu, para petani juga diberikan pelatihan, saprodi, bantuan pupuk serta pemasaran untuk menjual hasil pertanian.

“Yang paling penting kita latih keterampilannya dulu lalu menyamakan persepsi tentang budidaya yang baik, setelah itu baru kita dukung yang lain,” kata Zamzuli.

Program Agribisnis yang dijalankan oleh grup APRIL ini merupakan salah satu perwujudan komitmen transformatif APRIL2030 untuk mendukung tujuan pembangunan keberlanjutan (sustainable development goals/ SDGs) di tahun 2030.

Komitmen tersebut antara lain kemajuan inklusif, pengurangan angka kemiskinan ekstrim dalam radius 50 kilometer dalam wilayah operasional grup APRIL.