'
25 Jumadil Awwal 1448 H | Jumat, 6 November 2026
×
/ nasional
Pemulihan TNTN Dimulai, 83,2 Persen Kawasan Hutan Telah Berubah Jadi Kebun Sawit
| Rabu, 4 November 2026
Editor : | Penulis :

 Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mulai memperkuat langkah pemulihan ekosistem Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Provinsi Riau. Upaya ini dilakukan setelah sebagian besar kawasan konservasi tersebut mengalami degradasi akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.

"Dari total luas kawasan yang ditetapkan sebesar 81.793 hektare, sekitar 68.043 hektare atau 83,2 persen telah berubah menjadi kebun sawit. Kondisi tersebut menyisakan hutan alami seluas 13.750 hektare atau hanya 16,8 persen," kata Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Heru Sutmantoro usai sosialisasi pedoman pemulihan ekosistem TNTN di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (4/11/2026).

Sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman yang sama mengenai pelaksanaan pemulihan ekosistem Tesso Nilo pascapenertiban kawasan hutan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Pedoman tersebut menjadi acuan teknis pemulihan berbasis ilmu pengetahuan atau science-based restoration. 

Pelaksanaannya dirancang secara sistematis, terukur, dan adaptif. Pelaksanaan pemulihan TNTN melibatkan berbagai pihak untuk mengembalikan fungsi ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah.

"Kerusakan ekosistem ini berdampak langsung pada kelestarian Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan keseimbangan hidrologi kawasan. Perambahan yang marak telah memecah habitat gajah menjadi kantong-kantong kecil serta memutus koridor pergerakannya," cakap Heru.

Pemulihan akan difokuskan pada pengembalian habitat dan koridor pergerakan Gajah Sumatera. Selain itu, jenis vegetasi yang menjadi sumber pakan dan tempat berlindung satwa tersebut juga akan diperkaya.

"Salah satu upaya yang disiapkan adalah rekayasa habitat terpadu melalui pembangunan salt lick atau sumber mineral buatan. Fasilitas tersebut akan ditempatkan di zona lembah sebagai titik penarik aktivitas gajah. Agar, satwa tetap beraktivitas di dalam kawasan konservasi, sekaligus mengurangi potensi pergerakan ke permukiman warga," jelas Heru.

Selain melindungi satwa, pemulihan Tesso Nilo juga diarahkan untuk mengembalikan fungsi hidrologi kawasan. Taman nasional tersebut merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi tiga sungai utama, yakni Sungai Nilo, Sungai Air Sawan, dan Sungai Air Hitam.

"Alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit monokultur telah mengurangi kemampuan tanah menyerap air dan menyebabkan pemadatan tanah. Akibatnya, wilayah sekitar lebih rentan mengalami banjir saat musim hujan dan kekeringan ekstrem ketika musim kemarau," jelas Heru.

Guna mengatasi persoalan tersebut, pemulihan dilakukan melalui penanaman vegetasi riparian di sepanjang sempadan sungai serta pemulihan tutupan kanopi hutan secara bertahap. Langkah tersebut diharapkan dapat mengembalikan kemampuan kawasan dalam menyimpan dan menahan air, menjaga kelembapan tanah, menstabilkan iklim mikro, serta memperbaiki tata air regional.

Dari sisi pendanaan, pemulihan ekosistem Tesso Nilo akan didukung melalui berbagai sumber pembiayaan, di antaranya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), program Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS), skema Result-Based Contribution (RBC) FOLU Net Sink 2030, dukungan sektor swasta melalui Remedy Framework, kerja sama penguatan fungsi, serta dukungan filantropi nasional dan internasional. Keterlibatan warga desa penyangga menjadi bagian penting dalam seluruh tahapan pemulihan. 

Dengan demikian, upaya rehabilitasi kawasan tidak hanya berorientasi pada pemulihan hutan. Tetapi, upaya rehabilitas juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan keselamatan warga sekitar.

"Melalui sinergi lintas sektor dan komitmen bersama, pemulihan TNTN diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan. Hutan yang sehat bukan hanya menjadi rumah bagi Gajah Sumatera. Tetapi, hutan yang sehat juga berperan sebagai spons raksasa yang melindungi desa-desa dari ancaman banjir saat musim hujan dan kekeringan ekstrem pada musim kemarau," tutupnya.

Index
Imigrasi Pekanbaru Musnahkan 145.731 Berkas Arsip Keimigrasian
Pemulihan TNTN Dimulai, 83,2 Persen Kawasan Hutan Telah Berubah Jadi Kebun Sawit
Mahasiswa Politeknik Negeri Bengkalis Ikuti Kelas Pemilu, KPU Dorong Terwujudnya Demokrasi Inklusif
Kemkomdigi Ingatkan Ancaman AI, Penipuan Kini Bisa Meniru Suara dan Identitas
Bangun Ketahanan Digital, 69 Aplikasi Pemerintah Beroperasi di Pusat Data Nasional
Alhamdulillah, Labkesmas Bengkalis Raih Akreditasi Utama, Siap Tingkatkan Mutu Pelayanan
Bertemu USABC, Meutya Hafid Dorong Investasi Digital AS Beri Manfaat Nyata bagi Indonesia
Dewan Pendidikan Bengkalis Apresiasi K3S Bantan Gelar Lomba Cerdas Cermat Tingkat SD
Toreh Prestasi Internasional, Mahasiswa Polbeng Raih Gold Medal dan Special Award di IUIC 2026 Malay
Jurnalistik Cendekia Gelar REDAKSI, Ajak Anak Yayasan Aisyah Mengenal Literasi
Index
Perkuat Tata Kelola Data Desa dan Kelurahan, Kecamatan Bengkalis Sosialisasikan Program Desa Cantik
 Bupati Kasmarni Hadiri Pembukaan Musda XI DPD Partai Golkar, Ajak Perkuat Persatuan dan Bersinergi
Peringati Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Tengah Tantangan Fiskal, Wabup Ingatkan Peran Pemuda untuk Dae
Menkomdigi Meutya Hafid dan Kapolri Suyudi Perkuat Sinergi Berantas Judi Online Lintas Negara dan Pe
Bupati Kasmarni Terima Audiensi PKB Bengkalis, Perkuat Sinergi Bangun Daerah
Bupati Bengkalis Sampaikan Jawaban atas Pandangan Umum Tujuh Fraksi DPRD terhadap Ranperda APBD 2027
Peringatan Hari Santri 2026 di Ponpes Nurul Hidayah, Bupati Kasmarni Minta Santri Kuasai Iptek Menuj
Hadiri Paripurna DPRD, Bupati Bengkalis Harapkan Pandangan Umum Fraksi Jadi Bahan Penyempurnaan Ranp
Wabup Bengkalis Bagus Santoso Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh Lancang Kuning 2026, Perkuat S
Ranperda APBD 2027 Disampaikan, DBH Migas Bengkalis Diproyeksi Turun 80,61 Persen
pemerintahan
Imigrasi Pekanbaru Musnahkan 145.731 Berkas Arsip Keimigrasian
Wali Kota Pekanbaru: Rumah Dinas Terbuka Bagi Siapa Saja
Pekanbaru Bersujud, Wako Agung dan Ratusan Warga Mohon Hujan di Tengah Kepungan Asap
Sekolah di Pekanbaru Dialihkan ke Daring, MBG Tetap Disalurkan
daerah
Mahasiswa Politeknik Negeri Bengkalis Ikuti Kelas Pemilu, KPU Dorong Terwujudnya Demokrasi Inklusif
Kemkomdigi Ingatkan Ancaman AI, Penipuan Kini Bisa Meniru Suara dan Identitas
Bangun Ketahanan Digital, 69 Aplikasi Pemerintah Beroperasi di Pusat Data Nasional
Alhamdulillah, Labkesmas Bengkalis Raih Akreditasi Utama, Siap Tingkatkan Mutu Pelayanan
Politik
Musda VI Demokrat Riau Akan di Gelar,Agung Nugroho Calon Tunggal Ketua DPD Periode 2026-2031
 Pasangan Cawako Aman Menang Hasil Hitungan Cepat Raih 47 Persen Suara
Hasil Quick Count LSI Abdul Wahid-SF Hariyanto Unggul 42,39 Persen di Pilgub Riau
KPU Himbau Agar Masyarakat Datang ke TPS Gunakan Hak Suara

ekonomi
Bapenda Beri Penghargaan Taat Pajak kepada Perusahaan dan Warga
Hasil Uji Labor, Pemko Pekanbaru Pastikan Anggur Muscat Aman Dikonsumsi
UMKM EXPO Inhil Resmi di Tutup,Bupati Inhil,Semoga UMKM Makin Berkembang
Nasional
Pemulihan TNTN Dimulai, 83,2 Persen Kawasan Hutan Telah Berubah Jadi Kebun Sawit
Dipukul Rata 26 Tahun, Tak Ada Lagi Masa Tunggu Haji 15 Tahun
Farhan Harumkan Riau Lewat Hafalan 10 Juz di STQH Nasional 2025
Rektor UII Kawatir Ada Cukong Dibalik Perguruan Tinggi Kelola Tambang

internasional
Parlemen Iran Dikabarkan Setujui Penutupan Selat Hormuz
Menteri Keamanan Israel Ancam Bubarkan Pemerintah Benjamin Netanyahu
Gelar Konpers Pertama, Taliban Janji Hormati Hak Perempuan Menurut Syariah
olahraga
Polda Riau Siap Gelar Event Lari RBR 2025, Terbesar di Sumatra dan Akan di Buka Kapolri
Asyrof Al Ghifari Mahasiswa FH UGM asal Bengkalis Wakili Indonesia pada Paris International Model Un
Pengurus Pengprov Muaythai Riau dan Pengurus kab/kota Jumpai Kabid Organisasi dan Bidang Hukum KONI
Muaythai Tampil di Perpisahan Sekolah, Ketua KONI: Muaythai akan Kita Jadikan Ekstrakurikuler Binaan

News Popular
Pilihan Redaksi
Daerah
Politik
Nasional
Serba Serbi
nasional

Pemulihan TNTN Dimulai, 83,2 Persen Kawasan Hutan Telah Berubah Jadi Kebun Sawit
Rabu, 4 November 2026
Editor : | Penulis :
Pemerintahan

OLAHRAGA

Pendidikan
lingkungan

 Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mulai memperkuat langkah pemulihan ekosistem Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Provinsi Riau. Upaya ini dilakukan setelah sebagian besar kawasan konservasi tersebut mengalami degradasi akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.

"Dari total luas kawasan yang ditetapkan sebesar 81.793 hektare, sekitar 68.043 hektare atau 83,2 persen telah berubah menjadi kebun sawit. Kondisi tersebut menyisakan hutan alami seluas 13.750 hektare atau hanya 16,8 persen," kata Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Heru Sutmantoro usai sosialisasi pedoman pemulihan ekosistem TNTN di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (4/11/2026).

Sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman yang sama mengenai pelaksanaan pemulihan ekosistem Tesso Nilo pascapenertiban kawasan hutan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Pedoman tersebut menjadi acuan teknis pemulihan berbasis ilmu pengetahuan atau science-based restoration. 

Pelaksanaannya dirancang secara sistematis, terukur, dan adaptif. Pelaksanaan pemulihan TNTN melibatkan berbagai pihak untuk mengembalikan fungsi ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah.

"Kerusakan ekosistem ini berdampak langsung pada kelestarian Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan keseimbangan hidrologi kawasan. Perambahan yang marak telah memecah habitat gajah menjadi kantong-kantong kecil serta memutus koridor pergerakannya," cakap Heru.

Pemulihan akan difokuskan pada pengembalian habitat dan koridor pergerakan Gajah Sumatera. Selain itu, jenis vegetasi yang menjadi sumber pakan dan tempat berlindung satwa tersebut juga akan diperkaya.

"Salah satu upaya yang disiapkan adalah rekayasa habitat terpadu melalui pembangunan salt lick atau sumber mineral buatan. Fasilitas tersebut akan ditempatkan di zona lembah sebagai titik penarik aktivitas gajah. Agar, satwa tetap beraktivitas di dalam kawasan konservasi, sekaligus mengurangi potensi pergerakan ke permukiman warga," jelas Heru.

Selain melindungi satwa, pemulihan Tesso Nilo juga diarahkan untuk mengembalikan fungsi hidrologi kawasan. Taman nasional tersebut merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi tiga sungai utama, yakni Sungai Nilo, Sungai Air Sawan, dan Sungai Air Hitam.

"Alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit monokultur telah mengurangi kemampuan tanah menyerap air dan menyebabkan pemadatan tanah. Akibatnya, wilayah sekitar lebih rentan mengalami banjir saat musim hujan dan kekeringan ekstrem ketika musim kemarau," jelas Heru.

Guna mengatasi persoalan tersebut, pemulihan dilakukan melalui penanaman vegetasi riparian di sepanjang sempadan sungai serta pemulihan tutupan kanopi hutan secara bertahap. Langkah tersebut diharapkan dapat mengembalikan kemampuan kawasan dalam menyimpan dan menahan air, menjaga kelembapan tanah, menstabilkan iklim mikro, serta memperbaiki tata air regional.

Dari sisi pendanaan, pemulihan ekosistem Tesso Nilo akan didukung melalui berbagai sumber pembiayaan, di antaranya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), program Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS), skema Result-Based Contribution (RBC) FOLU Net Sink 2030, dukungan sektor swasta melalui Remedy Framework, kerja sama penguatan fungsi, serta dukungan filantropi nasional dan internasional. Keterlibatan warga desa penyangga menjadi bagian penting dalam seluruh tahapan pemulihan. 

Dengan demikian, upaya rehabilitasi kawasan tidak hanya berorientasi pada pemulihan hutan. Tetapi, upaya rehabilitas juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan keselamatan warga sekitar.

"Melalui sinergi lintas sektor dan komitmen bersama, pemulihan TNTN diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan. Hutan yang sehat bukan hanya menjadi rumah bagi Gajah Sumatera. Tetapi, hutan yang sehat juga berperan sebagai spons raksasa yang melindungi desa-desa dari ancaman banjir saat musim hujan dan kekeringan ekstrem pada musim kemarau," tutupnya.